BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat hingga meninggalkan level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah lonjakan harga minyak dunia pada perdagangan hari ini, Selasa (20/20/2026).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,07% atau 31 poin​ menjadi Rp18.015 per dolar AS dari level sebelumnya Rp18.046 per dolar AS.
Penguatan rupiah terus berlanjut hingga terpantau menyentuh Rp17.993 per dolar AS pada pukul 10:40 WIB, melonjak 0,29% atau 53 poin dari level Rp18.046 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026).
Di pasar spot, nilai tukar rupiah juga dibuka menguat terbatas 0,04% ke level Rp18.035 per dolar AS, dan terus melanjutkan penguatan hingga menyentuh level Rp18.003 per dolar AS.
Mata uang Garuda melakukan perlawanan terhadap dolar AS seiring intervensi yang terus dilakukan Bank Indonesia (BI) di seluruh pasar, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Investor merespons positif pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, yang menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal, dan gejolak pasar keuangan domestik.
Selain melakukan intervensi ke seluruh pasar, Destry mengatakan BI sudah melakukan opsi penjagaan rupiah lainnya dalam bentuk insentif biaya hedging.
Langkah ini sudah dilakukan BI sejak akhir Juni 2026 saat terjadi goncangan pasar keuangan pascapengumuman MSCI, yang membekukan indeks saham Indonesia.
“Jadi BI sudah melakukan penjagaan rupiah dalam bentuk insentif biaya hedging, dan diteruskan sekarang ini,” ungkap Destry.
Penguatan rupiah hari ini juga mengikuti pergerakan mata uang Asia lainnya, yang defensif terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini.
Mata uang Asia yang dibuka menguat terhadap dolar AS antara lain, Won Korea Selatan (+0,35%), Peso Filipina (+0,09%), Yuan Offshore (+0,1%), Dolar Dingapura (+0,1%), dan Dolar Hong Kong (+),1%).
Lonjakan mata uang rupiah pada perdagangan hari ini merupakan technical rebound, di tengah tekanan eksternal, yakni lonjakan harga minyak dunia, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Meski sedikit menyusut, harga minyak dunia jenis Brent masih berada di level US$109,06 per barel, sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di US$103 per barel.
Sedangkan yield US Treasury mencatat kenaikan, khususnya di tenor jangka panjang. Adapun yield US Treasury tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik sebesar 6,3 basis poin (bps) menjadi 5,13%.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi menguat terbatas dengan bergerak di kisaran level Rp17.950 per dolar AS hingga Rp18.050 per dolar AS. (Jea)


