BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) membatasi pembelian Dolar AS untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sehingga mampu menghadapi tekanan pasar di tengah ketidakpastian global dan tingginya kebutuhan Dolar AS secara musiman.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, sampai saat ini tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih membayangi, terutama selama periode libur Idul Adha 1447 H.
Selain itu, lanjut Denny, kondisi pasar juga masih dipengaruhi gejolak di kancah internasional, di mana konflik geopolitik menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi nilai tukar.
“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar Denny dikutip Senin (1/6/2026).
Selain faktor global, kebutuhan valas di dalam negeri untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) juga melonjak cukup signifikan. Perusahaan-perusahaan juga memerlukan Dolar AS untuk repatriasi dividen. Kondisi ini diperberat dengan arus masuk Dolar AS yang masih terbatas.
“BI memastikan akan tetap berada di pasar untuk melakukan pengawalan. Komitmen ini sejalan dengan arahan Gubernur Bank Indonesia,” kata dia. (nov)
“Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” tuturnya.


