Aksi Korporasi Emiten, Menkeu Bakal Ambil Alih PT PNM dari BRI

BRIEF.ID –  Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana melakukan aksi korporasi seiring upaya untuk memberikan dampak  langsung pada struktur modal, jumlah saham beredar, nilai aset, atau posisi pemegang saham.

Riset D’ORIGIN, yang dikutip pada Jumat (6/2/2026) menyebutkan bahwa Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) agar berada langsung di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Pengambil alihan itu bertujuan untuk mengoptimalkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sekaligus menekan subsidi bunga yang kini mencapai sekitar Rp40 triliun per tahun.

Menkeu mengatakan, langkah ini dapat mengubah subsidi itu menjadi modal kerja produktif berbiaya rendah, bahkan berpotensi membentuk “bank kecil” bermodal hingga Rp 160 triliun dalam empat tahun, meski negosiasi dengan BPI Danantara  masih berlangsung dan Kemenkeu telah menyiapkan opsi tukar guling PNM dengan aset milik kementerian, yakni PT Geo Dipa Energi.

Sementara itu,  PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) menegaskan tidak terkait dengan kasus dugaan tindak pidana pasar modal yang tengah diselidiki Bareskrim Polri, karena penyidikan menyasar PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM), yang merupakan entitas berbeda.

Direktur Utama PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk,  Djoko Joelijanto menyatakan pihaknya tidak dapat berkomentar atas perkara tersebut, sementara Bareskrim telah menetapkan tiga tersangka, Direktur Utama MPAM DJ, pemegang saham ESO, serta istrinya EL, atas dugaan manipulasi pasar melalui penggunaan saham tertentu sebagai underlying asset reksa dana dengan transaksi yang melibatkan pihak terafiliasi.

PT Barito Renewables Energy Tbk  (BREN) merencanakan melakukan buyback saham dengan dana maksimal Rp 2 triliun yang bersumber dari kas internal guna menjaga stabilitas harga saham dan memberi fleksibilitas struktur permodalan di tengah dinamika pasar.

Aksi ini akan berlangsung pada 4 Februari hingga 3 Mei 2026, dengan manajemen menegaskan dana berasal dari kelebihan kas yang tidak mengganggu operasional maupun rencana pengembangan, serta telah mencakup seluruh biaya transaksi dan perantara.

Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk  (BRPT), Agus Salim Prajogo menegaskan bahwa rencana buyback saham senilai maksimal Rp1 triliun bukan dipicu gejolak IHSG akibat keputusan MSCI, melainkan sudah diputuskan sebelumnya, sembari memilih tidak banyak berkomentar soal kondisi pasar.

Buyback akan berlangsung pada 4 Februari hingga 3 Mei 2026 dan didanai dari kas internal, yang menurut manajemen tidak akan berdampak material terhadap operasional maupun pendapatan, serta diharapkan membantu menciptakan struktur permodalan yang lebih efisien dan mencerminkan kinerja perseroan. Hingga 30 September 2025, BRPT mencatat laba bersih sebesar US$ 582,14 juta, total aset US$ 16,01 miliar, dan ekuitas US$ 6,37 miliar.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk  (CUAN) melalui entitas usahanya PT Guna Darma Integra, yang dimiliki lewat PT Volta Daya Energi Indonesia (VDEI), melakukan groundbreaking proyek pembangkit listrik berkapasitas 680 MW di kawasan industri terintegrasi Feni Haltim (FHT) Industrial Park, Halmahera Timur, Maluku Utara, pada Rabu (4/2/2026).

Direktur Utama PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, Michael menyatakan proyek ini merupakan wujud komitmen perseroan untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik serta meningkatkan nilai tambah sektor energi dan industri nikel nasional.

Perkuat Kemandirian Industri Baja

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara  akan memperkuat kemandirian industri baja nasional dengan membangun pabrik slab berkapasitas 3 juta ton per tahun di Cilegon, Banten, melalui PT Krakatau Steel (Persero) Tbk  (KRAS) sebagai inisiatif mandiri tanpa mitra luar, guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku baja. COO BPI Danantara,  Dony Oskaria menyebut langkah ini menandai kembalinya Krakatau Steel ke sektor hulu setelah kondisi keuangan dan model bisnisnya dibenahi, sehingga perseroan kini siap memproduksi slab, produk baja setengah jadi yang menjadi bahan utama pembuatan pelat, gulungan, dan lembaran baja.

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) setelah mengakuisisi 1,68 miliar lembar saham milik Koperasi Pegawai PT Indosat Tbk  (Kopindosat) pada 2 Februari 2026 dengan harga Rp 63 per lembar saham, sehingga kepemilikannya mencapai 53,57%.

Usai transaksi, kepemilikan Kopindosat menyusut dari 59,86% menjadi 6,29% dan tidak lagi menjadi pengendali PADA. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

BI – Bank of Korea Perpanjang Perjanjian Swap Bilateral Mata Uang Lokal

BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea...

Disaksikan Presiden Prabowo, Adies Kadir Ucapkan Sumpah Sebagai Hakim Konsistusi

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto menyaksikan pengucapan sumpah Adies...

IHSG Rawan Koreksi Pasca Moody’s Turunkan Outlook Kredit Indonesia

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Juda Agung: Koordinasi Lintas Sektor Dorong Pertumbuhan Ekonomi

BRIEF.ID – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan,...