News

IHSG Bakal Menguat Akhir 2021, Pasar Modal Lebih Bergairah

September 6, 2021

 Jakarta, 5 September 2021 – Pasar modal Tanah Air diproyeksikan lebih bergairah di sisa akhir tahun ini. Index Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sejumlah analis kemungkinan besar meningkat pada kuartal keempat 2021. 

CEO Sucor Sekuritas Bernardus Setya menjelaskan proyeksi kinerja pasar modal dalam negeri lebih baik pada kuartal terakhir 2021, karena tren ekonomi global yang menunjukkan sebagian besar negara keluar dari zona resesi akibat pandemi Covid-19, tak terkecuali Indonesia. 

Dia mengatakan secara konsensus GDP Indonesia mencapai 4% tahun ini. Proyeksi yang cukup signifikan setelah minus 2% pada 2020. Selain itu, optimisme muncul karena dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia cukup kuat pada 2021 dibandingkan dengan tahun lalu. 

Dari data pihaknya, sejak Februari hingga Desember 2020 bursa efek dalam negeri didominasi dengan penjualan bersih saham oleh investor asing. Puncaknya pada September 2020 penjualan saham oleh investor asing di bursa efek Tanah Air mencapai lebih dari Rp15 triliun. Adapun pembelian saham yang dilakukan investor asing pada 2020 hanya terlihat pada bulan Mei yang nilainya masih di bawah Rp10 triliun. 

Berbeda dengan 2021 pembelian saham oleh investor asing sangat dominan dengan nilai terbesar terjadi pada Januari mencapai lebih dari Rp10 triliun. Hal itu pun berlanjut dalam kurun waktu empat bulan terakhir yang mendorong geliat IHSG. 

“Kita optimistis mengalami recovery setelah kita mengalami kontraksi yang dalam akibat Covid-19 yang terjadi sejak 2020. Kami melihat IHSG di kisaran 6.600-6.800 di akhir tahun,” ujarnya dalam acara seminar daring bertema “Riding Out a Market Downturn” yang diselenggarakan oleh D’Origin dan IGICO Advisory, Minggu (5/9) siang. 

Bernardus memaparkan hal lain yang akan ikut pula memicu IHSG lebih bergeliat. Yaitu menguatnya sektor komoditas, terlebih Indonesia sebagai salah satu pemasok terbesar di dunia. Dia mengatakan harga batu bara naik 86,02% sampai akhir Juli. Pada September harganya mencapai US$175 per ton dan menjadi tertinggi sejak 2018. 

Pun demikian dengan harga timah yang naik 74,16% dan nikel 18,02%. Di dalam negeri, optimisme pasar pun terdorong dengan keberhasilan pemerintah menekan laju Covid-19 Varian Delta dan memasifkan program vaksinasi. Hal itu lantas memutar kembali roda perekonomian lebih kencang. 

Bernardus memberi gambaran, memasuki semester kedua utamanya pada September biasanya merupakan bulan berdarah bagi IHSG. Data menyebutkan, pada bulan tersebut pada periode 2018-2020 IHSG masuk zona merah. 

Kendati demikian, data dari 2017-2020 yaitu pada Oktober IHSG selalu di zona hijau dan satu tahun di zona merah. Dia menyebut, pasar pada September memang volatile termasuk pada 2021. Tetapi hal itu adalah kesempatan bagus untuk melirik melihat saham apa yang berpotensi dikoleksi ke depan. 

Oleh karena itu menurutnya investor tak perlu khawatir menghadapi kondisi pasar di akhir tahun karena kecenderungan pasar yang bullish lebih besar. 

“Pada Agustus ada short rally dari tanggal 1-18 digerakan emiten big caps. Dan kami yakin blue chip pada kuartal 4 cukup menarik diperhatikan. IHSG mengalami kenaikan dari Oktober sampai Desember ditopang blue chip biasanya,” ujarnya optimistis. 

Adapun pada periode 1-18 Agustus, emiten big caps yang menggerakkan penaikan IHSG dan persentase kenaikan harga sahamnya adalah, BBCA (10,55%), BBRI (9,7%), ASII (10,7%), TLKM (5,56%), BMRI (6,14%), SMGR (22,4%), BBNI (13,49%), INTP (27,27%), BRPT (16,49), CPIN (7,21%). 

Optimisme yang sama diungkapkan pula oleh Mentor of BBK Trading Tools, Feyara. Menurut Feyara, apa yang diungkapkan Bernardus menimbulkan optimisme yang kuat di pasar modal Indonesia. Selain itu, optimisme terdorong pula stimulus pemerintah untuk meningkatkan pemulihan ekonomi. 

“Ada realisasi Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) 2021 yang realisasinya 43,9% yaitu Rp326 triliun. Kemudian peningkatan ekonomi triwulan kedua year on year sekitar 7%,’ ujarnya. 

Pemerintah melalui PEN, kata dia, mendorong tingkat konsumsi yang akan menggerakkan sektor rumah tangga pada akhir tahun. Feyara pun menekankan, dorongan pemerintah atas investasi di sektor publik akan memicu sentimen positif di pasar modal pada kuartal terakhir 2021. 

Senada, Vice President of Samuel Sekuritas Indonesia M. Alfatih mengatakan pandemi Covid-19 memang menjadi fenomena yang memukul ekonomi termasuk pasar modal paling keras jika dibandingkan dengan isu global lain sebelumnya. 

Yaitu seperti Tapering 2013, Brexit, US mini recession, ataupun fenomena perang dagang AS-Tiongkok semasa Presiden Donald Trump berkuasa di Amerika Serikat. Pandemi Covid-19 menurutnya membuat harga market keluar dari up channel range-nya yang ada sejak 2012. 

“Dan sekarang sedang mencoba untuk kembali dalam up channel nya dengan menembus resisten dari 2018 sebelum dia lanjut tren naiknya. Dan tren naiknya optimisnya sih 8.000, untuk periode beberapa tahun ke depan,” ujarnya dalam kesempatan yang sama. 

Oleh karena itu, seperti alasan-alasan yang sudah dijelaskan Bernardus, dia memperkirakan IHSG berada di level sekitar 6.800 di pada akhir kuartal keempat 2021, dengan support di sekitar 5.800-6.000. 

Dalam acara yang sama founder B-Trade TC yang juga Elliot Wave expert Wijen Pontus menjelaskan proyeksi IHSG melalui dua skenario yang dianalisa dengan skema Elliot Wave. Skenario pertama dan yang kemungkinan besar terjadi adalah skenario sangat optimistis. 

Dimana IHSG akan break di level 6.200-6.400 dalam jangka waktu sekitar satu bulan ke depan. Dan itu menurutnya adalah level resistensi yang cukup penting. 

“Karena saya sangat optimistis maka saya gunakan skenario pertama ini sebagai skenario yang mungkin terjadi. Begitu break di 6.200-6.400 entah minggu depan atau Oktober skenario ini confirm, IHSG artinya akan bullish setahun ke depan. Target kita tahun depan IHSG ke level 6.800 sampai 7000,” ujarnya optimistis. 

Kendati demikian dia menyebut ada skenario kedua dimana IHSG menyentuh level 6.100 dalam waktu dekat. Sehingga pada akhir tahun IHSG kembali di kisaran 5.800. 

Walaupun demikian, lanjut dia, pasar tak perlu khawatir karena ini adalah kesempatan untuk mengoleksi saham incaran. Dimana harga saham cenderung melandai. Dan jika demikian, menurutnya, IHSG akan kembali naik pada akhir 2022. 

Saham Syariah Ikut Naik 

Di sisi lain, kondisi perekonomian 2021 yang lebih baik pun dinilai akan ikut mengatrol harga saham syariah. Founder Syariah Saham Asep Muhammad Saepul Islam atau dikenal dengan Mang Amsi, bahkan menandai emiten-emiten pilihan yang masuk dalam saham syariah yang kinerjanya akan moncer hingga akhir tahun ini. 

“Ada beberapa saham yang bisa dijadikan alternatif untuk tiga bulan atau empat bulan terakhir di 2021 dengan berkaca pada kinerja pada semester I/2021 dibandingkan periode sama tahun lalu. Misalkan PTBA, UNTR, KLBF, INKP, BTPS dan CTRA,” ujarnya. 

Mang Amsi mengatakan pihaknya fokus pada saham syariah yang likuid, dengan pendapatan dan laba yang naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian return of equity (ROE) yang terjaga baik, dan price to book value (PBV) yang wajar serta price earning (PER) yang normal dari beragam sektor industri.