News

Menristek/Kepala BRIN Harapkan LIPI dan BPPT Jadi Pelopor Utama BRIN

October 30, 2019

Jakarta — Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Permadi Soemantri Bodjonegoro pada Selasa (29/10) mengunjungi kantor pusat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta. Kunjungan Menristek diterima oleh Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko beserta jajaran pimpinan dan kepala satuan kerja di lingkungan LIPI.

Dalam kunjungannya, Menristek menyampaikan beberapa hal penting terkait eksekusi dari target pengembangan iptek dan pembangunan sumber daya manusia yang dicanangka pemerintahan Presiden Joko Widodo periode 2019-2024 serta langkah-langkah konsolidasi terkait pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berikut adalah rangkumannya:

1. LIPI diharapkan bisa menjadi pelopor, suporter utama serta mampu menunjukkan kemampuan beradaptasi dan bekerjasama dengan BPPT karena dua lembaga ini yang akan jadi pelopor utama dalam BRIN. LIPI akan fokus di riset hulu dan proses inovasi. Penerapan serta hilirisasi ada di BPPT. “Tentu masih ada potensi dupliksasi program, namun yang harus diperhatikan LIPI dan BPPT sama-sama melakukan penelitian untuk pemerintah, bukan sebagai individu,” jelas Bambang,

2. Memberikan dukungan dan komitmen untuk pimpinan dan peneliti agar proses transisi ke BRIN berjalan mulus. “BRIN dibentuk berdasarkan lembaga yang sudah ada. Dalam bisnis istilahnya merger bukan akuisisi. Arahnya lebih ke merger. Kita sedang menyusun kerangka organisasi dan kita akan akomodir aspirasi dari lembaga-lembaga yang terkait.”

3.BRIN akan didorong bukan hanya jadi lembaga baru dengan kewenangan baru, tapi yang paling penting adalah menyelesaikan dua amanat penting Presiden. “Pertama, riset dan inovasi penting dalam konteks daya saing Indonesia. Global Competitiveness Index Indonesia rangkingya turun, dari 30 jadi 56.” Selama ini yang bagus hanya size dan stabilitas ekonomi, yang turun adalah aspek inovasi dan riset. Inovasi baik didukung riset kuat , baik yang dasar maupun terapan. Kalau kita lihat negara pemenang nobel terbanyak adalah Amerika Serikat dan Jepang. Ada keselarasan ilmu pengetahuan dengan kekuatan industri untuk mendorong inovasi. “Integrasi riset dan inovasi harus dilakukan kalau mau memperbaiki rangking dan memperbaiki produk indonesia agar berdaya saing.”

4. Kedua, lembaga penelitian selalu berharap anggaran riset yang lebih besar di APBN. “Angkanya tersebar di banyak unit, dilakukan begitu banyak peneliti sehingga pengeluaran riset per kapita sangat rendah” Kondisi ini menjadikan hasil penelitian hanya terpaku pada ranah administrasi berupa laporan bukan berwujud produk yang menunjukkan negara Indonesia yang risetnya kuat,

5. Hasil serta keluaran riset harus sesuai kebutuhan masyarakat juga kebutuhan pasar. Tantangan ini bukan hanya dari faktor peneliti, tapi karakter pengusaha kita. “Jenis pengusaha yang banyak adalah pedagang. Beli yang murah jual lebih mahal. Itu praktek bisnis paling dasar. Kedua penyedia jasa.” Yang dibutuhkan adalah mereka yang mau melakukan proses inovasi dan jumlahnya sangat sedikit karena mereka cenderung membeli lisensi dari headquarter atau principal. Ke depan, semua kegiatan riset dan pengembangan di BRIN harus melibatkan swasta untuk menciptakan skema triple helix yang ideal. “BRIN selain memainkan peran sebagai lembaga penelitian pemerintah juga menjadi fasilitator.”

6. Riset ilmu sosial di BRIN akan diakomodasi dalam bidang Sosial, Budaya, Humaniora, dan Pendidikan. “Arah riset ilmu sosial dalamrangka pondasi menjadi negara maju. Kemajuan masyarakat bukan direkayasa tapi pasti ada pondasi utama.”

7. Mendukung penuh inovasi LIPI dalam pengelolaan aset. “Salah satu kekuatan BRIN ada di aset. Kita mendorong kerjasama pemerintah badan usaha untuk membangun infrastruktur baru. Kita kurangi ketergantungan pada APBN. Ini inisiatif bagus LIPI sudah melakukan optimalisasi aset lewat kerja sama pengelolaan dengan swasta.”

***