BRIEF.ID – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan ketidakpasatian global makin meningkat seiring ulah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang kembali menabuh genderang perang tarif dengan sejumlah negara.
Menteri Keuangan sekaligus Anggota KSSK, Purbaya Yudhi Sadewa, pertumbuhan ekonomi dunia masih akan dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif impor AS dan kerentanan rantai pasok global.
Pada Senin (26/1/2026), Presiden Trump melontarkan ancaman kenaikan tarif impor kepada sejumlah negara, antara lain Korea Selatan (Korsel), dan Kanada.
Dia mengancam bakal menaikkan tarif bea masuk terhadap produk asal Korsel menjadi 25%. Pasalnya, negeri ginseng ini dinilai tidak menepati apa yang sudah disepakati dalam perjanjian dagang.
Menurut Trump, Korsel tidak menerapkan aturan yang mencerminkan kesepakatan dengan AS terkait perdagangan, padahal AS sudah menurunkan tarif impor barang asal Korsel.
“Dalam kesepakatan tersebut, kami telah menurunkan tarif. Tentu saja kami berekspektasi mitra dagang kami melakukan hal yang sama,” tulis Trump dalam cuitan di media sosial, seperti dikutip Selasa (27/1/2026).
Sementara terhadap Kanada, Trump mengancam bakal memberlakukan tarif impor sebesar 100%, jika negara tetangga AS itu membuat kesepakatan dagang dengan Tiongkok.
Sebelumnya, Trump juga mengeluarkan ancaman kenaikan tarif impor kepada 8 negara eropa karena dinilai menentang keinginan AS mengambil alih pengelolaan Greenland untuk menghadapi Tiongkok.
Kondisi tersebut, diyakini akan membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat pada tahun ini. Negara-negara yang terdampak, dan diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi terparah, antara lain Jepang, Tiongkok, dan India.
Purbaya mengungkapkan, pelambatan aktivitas ekonomi AS dan pelemahan pasar tenaga kerja juga menjadi pemicu ketidakpastian global di tahun ini.
Pasalnya, Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diduga akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) di tahun ini. Sebelumnya, The Fed memangkan FFR sebesar 50 basis poin pada kuartal IV 2025 ke kisaran 3,5% sampai 3,75%.
“Pemangkasan lanjutan diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi dan meningkatkan aliran modal ke emerging market (negara berkembang),” kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK, Selasa (27/1/2026).
Selain itu, lanjutnya, ketidakpastian global terutama pada pasar keuangan juga meningkat, terutama dipicu oleh ketegangan perang dagang serta meluasnya eskalasi tensi geopolitik.
Sebelumnya, IMF dalam World Economic Outlook (WEO) Januari 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3% pada tahun 2025 dan 2026, lebih tinggi dari proyeksi pada Oktober 2025. (jea)


