Tren Penurunan Suku Bunga The Fed dan BI Dorong IHSG ke Zona Hijau

BRIEF.ID – Tren penurunan suku bunga yang bakal dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed dan Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menjadi faktor pendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuju zona hijau.

Hasil analisa Phintraco Sekuritas yang dirilis Rabu (3/9/2025) menyebutkan, IHSG pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bergerak pada resistance 7.900, pivot 7.850, dan support  7.760. Saham-saham yang direkomendasikan untuk dikolek di antaranya, CTRA, SMRA, TINS, ELSA, dan MEDC.

Disebutkan, penguatan akan berlanjut setelah IHSG ditutup menguat di level 7.801,59  atau naik  0,85%) pada perdagangan Selasa (2/9/2025). Situasi keamanan yang lebih kondusif di beberapa kota di dalam negeri, meningkatkan level kepercayaan investor. Rupiah juga cenderung menguat.

Investor memanfaatkan momentum koreksi sebelumnya untuk melakukan pembelian pada saham-saham berfundamental bagus. Ekspektasi akan tren penurunan suku bunga The Fed dan BI Rate juga menjadi faktor positif. Meskipun demikian, penguatan IHSG berkurang menjelang penutupan perdagangan, yang disinyalir karena investor masih bersikap hati-hati dengan melakukan trading jangka pendek.

Secara teknikal, IHSG dibuka menguat dan kemudian cenderung bergerak stabil di sekitar level 7.830, sebelum akhirnya ditutup di 7801. IHSG telah berada kembali di atas level MA20 di 7.790.

Indikator Stochastic RSI berada di area oversold, sehingga mendukung potensi rebound lanjutan jangka pendek. Namun MACD masih dalam area pelemahan. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak fluktuatif pada kisaran 7.760-7.900.

Jika level 7900 mampu ditembus dengan volume, maka IHSG berpotensi menutup gap up di 7.942 serta peluang menuju ke 8.000 terbuka kembali. Namun jika IHSG kembali bergerak di bawah level 7.800, maka berpotensi menguji level support di 7.630-7.650.

Ekspektasi tren penurunan suku bunga The Fed, penguatan harga komoditas, serta kenaikan bobot Indonesia diharapkan akan menjadi katalis positif. “Faktor politik dan keamanan masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai,” jelas Phintraco Sekuritas. (Nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Yardeni Research: Sulit Turunkan Suku Bunga The Fed Tahun 2026

BRIEF.ID - Bias pelonggaran kebijakan moneter Bank Sentral Amerika...

Trump Sebut Pembicaraan dengan Presiden Xi Jinping Sangat Positif

BRIEF.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut...

S&P 500 dan Nasdaq Perpanjang Rekor Kenaikan

BRIEF.ID – Indeks S&P dan Nasdaq pada penutupan perdagangan...

Rupiah NDF Menguat Tipis, Bertahan di Level Rp17.500 per Dolar AS

BRIEF.ID - Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF)...