Serangan Rudal Iran Hancurkan Fasilitas Ekspor LNG Qatar, Kerugian Rp337 Triliun

BRIEF.ID – Serangan rudal Iran, yang menghanurkan fasilitas ekspor gas alam cair atau liquid natural gas (LNG) milik Qatar, diprediksi menimbulkan kerugian pendapatan sebesar US$20 miliar atau setara Rp337 triliun. 

Chief Executive Officer QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengatakan serangan rudal Iran ke Ras Laffan Industrial City merusak fasilitas Train 4 dan Train 6, pada Rabu (19/2/2026), menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia tersebut.

Menurut dia, fasilitas Train 4 dan Train 6 di Ras Laffan Industrial City memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar 12,8 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan 17% dari total ekspor LNG tahunan Qatar.

“Serangan rudal Iran menimbulkan kerusakan parah pada fasilitas Train 4 dan Train 6 di Ras Laffan Industrial City dengan kerugian mencapai US$20 miliar. Perbaikan diperkirakan memakan waktu hingga lima tahun,” kata Saad, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/3/2026).

Saad menyampaikan, pabrik LNG tersebut sebenarnya sudah menghentikan produksi setelah serangan drone Iran sebelumnya. Meski demikian,  serangan terbaru pada Rabu (18/3/2026) lebih menghancurkan, dan dipastikan menghentikan operasi dalam jangka panjang.

QatarEnergy mengungkapkan, dengan operasi pabrik LNG yang terhenti, perusahaan terpaksa menyatakan kondisi force majeure hingga lima tahun untuk beberapa kontrak jangka panjang.

“Kondisi ini akan berdampak pada para pembeli, terutama di kawasan Asia, seperti Tiongkok, Korea Selatan, Italia, dan Belgia,” ujar Saad.

Insiden ini menandai eskalasi terbaru konflik geopolitik Timur Tengah, setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Maret 2026, dan dibalas Iran dengan menyerang pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.

Belakangan Iran memperluas serangan rudal, yang menargetkanm infrastruktur minyak dan gas (migas) di negara-negara Teluk, sehingga memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia.

Kontrak berjangka LBG di Eropa naik hingga 35% pada Rabu (18/3/2026), menjadi lebih dari dua kali lipat dibandingkan level sebelum perang. Lonjakan ini menegaskan risiko inflasi jangka panjang dari konflik di Timur Tengah yang kini telah memasuki pekan ketiga.

Fasilitas Train 4 dan Train 6 di Ras Laffan merupakan usaha patungan dengan Exxon Mobil Corp. Selain itu, serangan rudal Iran juga menargetkan fasilitas Pearl gas-to-liquids di dekatnya, yang dioperasikan oleh Shell Plc dan mengubah gas alam menjadi oli mesin, parafin, dan lilin.

“Kerusakan di fasilitas Pearl gas-to-liquids masih dalam tahap penilaian, dan pabrik diperkirakan akan berhenti beroperasi setidaknya selama satu tahun,” ungkap Saad.

Dia menambahkan, serangan tersebut menimbulkan kehilangan produksi sekitar 18,6 juta barel kondensat, yang mewakili 24% dari ekspor Qatar, 13% dari ekspor gas petroleum cair (LPG), dan sekitar 14% dari ekspor helium. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026

BRIEF.ID - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, resmi mengumumkan...

Arab Saudi Rayakan Idul Fitri Besok, Sidang Isbat Digelar 2 Kali

BRIEF.ID - Otoritas Arab Saudi mengumumkan Idul Fitri 1447...

Pemilik Grup Djarum Michael Hartono Meninggal Dunia, Dimakamkan Pekan Depan

BRIEF.ID - Pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, yang...

Megawati Temui Prabowo di Istana Merdeka

BRIEF.ID – Presiden ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua...