BRIEF.ID – Tiga anggota militer Amerika Serikat (AS) tewas dan lima lainnya luka parah selama serangan AS terhadap Iran, demikian diumumkan militer pada hari Minggu, menandai korban pertama Amerika dalam serangan besar yang menurut Presiden Donald Trump dapat berlangsung selama sebulan.
Komando Pusat AS, yang mengawasi Timur Tengah, mengumumkan kematian itu dalam sebuah unggahan di X, tetapi tidak menyebutkan kapan dan di mana kejadian itu terjadi, karena Republik Islam Iran membalas serangan gabungan AS dan Israel. Unggahan itu juga mengatakan “beberapa lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak” dan akan kembali bertugas.
Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah wawancara telepon dengan Daily Mail, pada Minggu (1/3/2026) bahwa pasukan AS yang tewas adalah “orang-orang hebat.”
“Anda tahu, kami memperkirakan hal itu akan terjadi. Bisa terjadi terus-menerus dan bisa terjadi lagi,” kata Trump.
Dia juga mengatakan kepada Daily Mail bahwa percaya konflik itu dapat berlangsung selama “sekitar empat minggu.” Sebelumnya Trump telah memperingatkan bahwa pasukan AS dapat tewas atau terluka dalam operasi itu.
“Nyawa para pahlawan Amerika yang gagah berani mungkin akan hilang, dan kita mungkin akan mengalami korban jiwa. Itu sering terjadi dalam perang. Tetapi kita melakukan ini bukan untuk sekarang. Kita melakukan ini untuk masa depan,” kata Trump.
Sementara itu, Komando Pusat menggambarkan situasi tersebut “sebagai dinamis” dan mengatakan akan merahasiakan identitas para anggota militer yang tewas selama 24 jam setelah keluarga mereka diberitahu.
Setelah serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan para pemimpin lainnya, serangan balasan Iran telah menghantam pangkalan AS di Bahrain dan Persatuan Emirat Arab.
Militer AS membantah klaim Iran bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dihantam rudal balistik, dengan mengatakan di X bahwa “rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekati sasaran.” (Associated Press/nov)


