BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026), tertekan ke level psikologis Rp16.800 per Dolar Amerika Serikat (AS) imbas sentimen konflik geopolitik Timur Tengah.
Pada awal perdagangan hari ini, kurs rupiah di pasar spot dibuka melemah 0,34% ke level Rp16.828 per dolar AS. Hingga akhir sesi pagi perdagangan hari ini, yakni sekitar pukul 12:00 WIB, pelemahan rupiah berlanjut dan terpantau berada di level Rp16.856 per dolar AS.
Serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu, menjadi sentimen negatif, yang mengguncang pasar keuangan pada perdagangan awal pekan ini.
Rupiah dan mayoritas mata uang Asia lainnya tertekan seiring menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,19% ke level 97,82. Adapun mata uang Asia lainnya yang tertekan dolar AS, yaitu Peso Filipina (-0,61%), Dolar Taiwan (-0,55%), dan Baht Thailand (-0,30%).
Koreksi juga terjadi pada Ringgit Malaysia (-0,28%), Yen Jepang (-0,13%), Dolar Singapura (-0,13%), Yuan Tiongkok (-0,08%), Yuan offshore (-0,05%), dan Dolar Hong Kong (-0,01%).
Konflik geopolitik antara AS-Israel dengan Iran yang meluas di kawasan Timur Tengah dan Afrika, membuat investor khawatir terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama setelah harga minyak sempat melonjak tajam.
Kenaikan harga minyak tidak hanya memicu risiko inflasi global, tetapi juga mempersempit ruang kebijakan moneter di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hal itu, memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan negara-negara berkembang atau emerging market, dan beralih ke logam mulia serta dolar AS sebagai mata uang terkuat.
Jika konflik geopolitik di Timur Tengah berlanjut dan eskalasinya makin meluas, maka rupiah diprediksi akan terus tertekan hingga level Rp16.900 per dolar AS.
Apalagi pada pekan ini, pelaku pasar akan memperhatikan rilis inflasi Indonesia pada Februari 2026, yang diperkirakan melonjak menjadi 4,3% sesuai hasil konsensus Bloomberg.Â
Terkait dengan perkembangan terbaru konflik geopolitik Timur Tengah, Bank Indonesia menyatakan komitmen untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar mata uang garuda.
“Sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran yang mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global, Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat,” ujar Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, Bi akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga. (jea)


