BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026). Pelemahan rupiah membuat Bank Indonesia (BI) menggencarkan intervensi.
Pada perdagangan di pasar spot hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,43% menjadi Rp16.929 per dolar AS. Transaksi rupiah offshore di pasar spot bahkan sempat menyentuh Rp17.020 per dolar AS.
Tak tinggal diam, BI menggencarkan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari tekanan dolar AS yang terus melambung dalam dua hari terakhir.
Deputy Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan intervensi yang tegas dan konsisten terus dilakukan melalui transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Sejak awal pekan ini, aksi jual Surat Berharga Negara (SBN) terus terjadi, i dan menyebabkan kenaikan imbal hasil (yield ) di hampir semua tenor, terutama tenor jangka pendek.
SBN tenor 1Y mengalami kenaikan 1,3 basis poin (bps) ke 5,22%, SBN tenor 4Y naik 2 bps ke 5,9%, SBN tenor 2Y juga naik 0,8 bps menjadi 5,22%, dan SBN tenor 6Y-10Y juga naik di rentang 6,1% hingga 6,55%.
Intervensi yang gencar dilakukan BI, mampu menahan keterpurukan rupiah. Hingga pukul 11:45 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp16.917 per dolar AS.
Tekanan terhadapo rupiah dipicu penguatan indeks dolar AS sebesar 0,7% ke level 99,072 pada perdagangan Selasa (3/3/2026). Hal itu, membuat hampir semua mata uang Asia melemah, kecuali Won Korea Selatan dan Yen Jepang.
Investor mulai memburu dolar AS dan meninggalkan logam mulia, seiring
kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi terutama kenaikan harga energi, seiring konflik geopolitik Timur Tengah.
Serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, telah membuat Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak mentah dunia ditutup. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam.
Aksi serangan balasan dari militer Iran ke berbagai negara sekutu AS di Timur Tengah, membuat investor khawatir konflik geopolitik di kawasan Teluk akan berlangsung dalam waktu lama, sehingga membuat biaya impor minyak mentah lebih mahal.
Itu sebabnya, investor kembali memburu dolar AS yang merupakan mata uang utama untuk transaksi perdagangan dunia, sehingga menyebabkan arus modal keluar (capital outflow) dari emerging market termasuk Indonesia meningkat.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisalan level Rp16.880 per dolar AS hingga RTp16.930 per dolar AS. (jea)


