BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS0), pada perdagangan hari ini, Kamis (22/1/2026), ditopang komitmen Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi skala besar.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka menguat tipis 0,04% atau 7 poin menjadi Rp16.929 per dolar AS dari level sebelumnya Rp16.936 per dolar AS.
Sementara di pasar spot nilai tukar rupiah hari ini menguat terbatas 0,09% menjadi Rp16.920 per dolar AS. Hingga pukul 10:00 WIB, penguatan rupiah terus berlanjut, dan berada di level Rp16.905 per dolar AS.
Penguatan rupiah juga tertopang oleh komitmen Bank Indonesia untuk melakukan intervensi skala besar di berbagai pasar guna menjaga stabilitas mata uang garuda.
Komitmen tersebut, disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat melaporkan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI), pada Rabu (21/1/2026).
Perry menyampaikan, arah bauran BI pada awal 2026 ini tetap fokus terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, yang terus mengalami depresiasi hingga ke level terlemah sepanjang sejarah (all time low).
Dia menjelaskan, fokus kebijakan BI saat ini, terutama pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, yang terdampak oleh meningkatnya ketidakpastian global, akibat ketegangan geopolitik antara AS dan Venezuela, serta AS dan Uni Eropa (UE).
Langkah tersebut, lanjutnya, dilakukan BI guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi, yang ditargetkan pemerintah.
“BI tidak akan ragu untuk melakukan intervensi skala besar di NDF pasar spot dan obligasi untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Penguatan rupiah hari ini juga ditopang oleh sentimen luar negeri, seiring meredanya polemik seputar Greenland, setelah Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Denmark.
Presiden Trump mengungkapkan, telah bersepakat dengan Denmark dalam kerangka kerja sama yang akan dirinci kemudian, dan menolak menggunakan militer dalam proses akuisisi Greenland.
Kabar tersebut, menjadi angin segar bagi pasar keuangan global, termasuk pasar obligasi. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), terjadi penurunan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor jangka pendek, di mana yield SBN 2Y turun sebesar 2,9 bps menjadi 5,07%.
Sedangkan yield SBN jangka menengah, yakni SBN 10Y naik tipis 1,2 bps menjadi 6.33% diikuti 20Y naik 1,5 bps menjadi 6,60% dan 5Y 1,1 bps menjadi 5.74%.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diprediksi masih menguat terbatas, dan bergerak di kisaran level Rp16.900 per dolar AS hingga Rp16.950 per dolar AS. (jea)


