BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berkonsolidasi seiring terus melemahnya nilai tukar Rupiah. Laporan Phintraco Sekuritas, yang dirilis pada Rabu (14/1/2026) menyebutkan, dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG akan bergerak pada resistance 9.000, pivot 8.900, dan support 8.730.
IHSG ditutup menguat di level 8.948 atau naik 0,72%) pada perdagangan Selasa (13/1/2026), setelah bergerak fluktuatif. Secara teknikal, terjadi penyempitan histogram positif MACD dan Stochastic RSI mengalami penurunan ke arah pivot. Saham-saham yang diunggulkan BBNI, BMRI, PGEO, JPFA, dan ISAT.
“IHSG diperkirakan masih berkonsolidasi pada kisaran 8.840-9.000, selama tidak ditutup di atas level 9.000. Koreksi IHSG masih wajar selama tidak ditutup di bawah level 8.730,” demikian laporan Phintraco Sekuritas.
Sementara itu, Rupiah berlanjut melemah di level Rp 16.877 per dolar AS di pasar spot, seiring dengan penguatan indeks dolar AS dan pelemahan mayoritas mata uang di Asia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan program mandatori campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 40% (B40) pada BBM solar direalisasikan pada tahun ini. Sedangkan B50 masih dalam kajian lebih lanjut, yang diharapkan akan siap implementasinya pada 2H26.
Penerapan B40 dan B50 ini diharapkan akan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan berpengaruh positif terhadap pengembangan energi bersih. Kebijakan ini berpotensi menjadi faktor positif bagi fundamental saham sektor perkebunan CPO.
Dari Tiongkok, Rabu (14/1/2026), investor akan mencermati data trade balance Desember 2025 yang diperkirakan membukukan surplus US$105 miliar dari US$ 111,68 miliar di November 2025.
Sedangkan Amerika Serikat (AS) akan merilis indeks PPI Oktober dan November 2025. Selain itu juga akan dirilis data retail sales bulan November 2025 yang diperkirakan tumbuh 0,3% MoM dari bulan sebelumnya yang stagnan. (nov)


