BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah makin loyo dan bertahan di atas level Rp16.850 per dolar AS, pada perdagangan hari ini, Selasa (13/1/2026).
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,11% atau 18 poin menjadi Rp16.873 per dolar AS dari level sebelumnya Rp16.855 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,2% ke level Rp16.867 per dolar AS. Hingga pukul 10:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di Rp16.871 per dolar AS.
Pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal dan internal. Dari luar negeri, penguatan indeks dolar AS sebesar 0,07% ke level 98,827 menjadi tekanan bagi rupiah dan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Mayoritas mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar AS, antara lain Won Korea Selatan (-0,34%), Baht Thailand (-0,14%), Peso Filipina (-0,07%), Yen Jepang (-0,06%), Dolar Hong Kong (-0,03%), dan dolar Singapura (-0,02%).
Sementara dari dalam negeri, defisit fiskal masih menjadi sorotan investor, bahkan membuat sejumlah lembaga keuangan menaikan proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tahun 2026.
Tahun ini, defisit APBN diprediksi bisa melebihi batas legal 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Citigroup Inc menaikkan proyeksi defisit APBN menjadi 3,5% PDB tahun ini, dari perkiraan awal sebesar 2,7% PDB.
Pembengkakan defisit ini terjadi lantaran pemerintah Indonesia meningkatkan belanja untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta belanja untuk program rehabilitasi pasca banjir Sumatera.
Selain itu, Citigroup juga memprediksi rasio utang Indonesia terhadap PDB akan naik dari 39% menjadi 42%. Proyeksi ini muncul karena meningkatnya tekanan pada keuangan negara akibat lambatnya pertumbuhan ekonomi dan harga komoditas yang rendah.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih melemah terutama akibat tekanan capital outflow (modal keluar), dan bergerak di kisaran level Rp16.850 per dolar AS hingga Rpo16.900 per dolar AS. (jea)


