BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan akhir pekan ini, karena efek perundingan nuklir AS-Iran.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, Jumat (27/2/2026), kurs rupiah dibuka melemah 0,17% atau 56 poin menjadi Rp16.782 per dolar AS dari level sebelumnya Rp16.759 per dolar AS.
Namun seiring berjalannya perdagangan, pelemahan rupiah mulai menyusut, hingga ditutup di level Rp16.767 per dolar AS di akhir sesi I perdagangan hari ini.
Perkembangan terbaru dari perundingan nuklir AS-Iran yang telah disepakati berlangsung pekan depan, mengurangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Hal ini, juga mengurangi sentimen risk-off investor di pasar keuangan emerging market (negara berkembang), termasuk Indonesia, yang terus mengalami arus capital outflow.
Meski demikian, investor masih mencermati perkembangan perundingan nuklir AS-Irak, karena khawatir dengan opsi serangan pasukan militer AS ke Iran.
Pada pekan lalu, AS telah mengirim pasukan militer dalam jumlah besar sejak Invasi Irak pada Tahun 2003. Hal itu mempertegas ancaman Presiden AS, Donald Trump, untuk menyerang Iran secara langsung, jika perundingan nuklir kedua negara tidak menghasilkan kesepakan dalam waktu maksimal 15 hari.
Iran juga membalas ancaman AS dengan mempertegas pasukan militernya yang dilengkapi dengan persenjataan canggih tidak akan tinggal diam jika diserang.
Selain itu, tekanan pada rupiah juga datang dari pengumuman terbaru Departemen Perdagangan AS, yang menaikkan tarif impor panel surya asal Indonesia sebesar 104,38%.
Faktor-faktor tersebut turut menggoyang pasar valutas asing (valas) di kawasan Asia. Adapun mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, antara lain Yuan offshore China dan Yuan China (-0,15%), Baht Thailand (-0,16%), dan Won Korea Selatan (0,4%).
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatof dengan kecednerungan melemah di kisaran level Rp16.750 per dolar AS hingga Rp16.800 per dolar AS. (jea)


