BRIEF.ID – Pertahanan rupiah jebol, dan kembali menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2026).
Pada awal perdagangan di pasar spot hari ini, nilai tukar (kurs) rupiah dibuka stagnan di posisi Rp16.980 per dolar AS. Tak berselang lama, kurs rupiah tertekan sebesar 0,22% ke level Rp17.017 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, seiring penguatan indeks dolar AS sebesar 0,22% ke level 99,87, pada perdagangan hari ini. Hingga penutupan sesi I perdagangan hari ini di pukul 12:00 WIB, rupiah terpantau berada di level Rp17.015 per dolar AS.
Selain rupiah, penguatan indeks dolar AS juga menekan mayoritas mata uang Asia, antara lain Won Korea Selatan (-0,62%), Baht Thailand (-0,52%), Yen Jepang (-0,38%), dan Dolar Singapura (-0,29%). Hanya Ringgit Malaysia dan Dolar Hong Kong yang menguat terhadap dolar, masing-masing sebesar 0,03% dan 0,02%.
Penguatan indeks dolar AS masih dipengaruhi konflik geopolitik Timur Tengah, seiring sinyal penyelesaian melalui negosiasi yang disampaikan pihak Iran dan AS.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menulis surat terbuka, yang menyatakan Iran tidak pernah memulai agresi. Apa yang dilakukan Iran sejak serangan AS dan Israel adalah upaya mempertahankan diri.
“Memandang Iran sebagai ancaman tidak konsisten dengan kenyataan dan fakta. Persepsi seperti ini adalah produk dari nafsu politik dan ekonomi dari para penguasa, yang membutuhkan musuh untuk membenarkan tekanan, dominasi, dan kendali. Dalam situasi seperti ini, ancaman hanya dibuat-buat,” kata Pezeshkian, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (2/4/2026).
Dia menyampaikan, Iran akan berupaya bernegosiasi, mencapai kesepakatan, dan mematuhi komitmen, karena melanjutkan konfrontasi atau perang hanya akan menambah biaya dan kekerasan bagi rakyat Iran.
“Jika perang terus berlanjut, maka akan berdampak terhadap kehidupan rakyat Iran. Perang mengorbankan kehidupan, rumah, kota, dan masa depan rakyat yang tidak bersalah,” kata Pezeshkian.
Sementara Presiden AS, Donald Trump, menegaskan kembali komitmen untuk negosiasi, tapi memperingatkan akan meningkatkan eskalasi militer untuk megakhiri perang dalam 2 pekan sampai 3 pekan ke depan, jika Iran tetap berkeras.
“Kami akan menyerang Iran ‘dengan sangat keras’ dengan menargetkan infrastruktur penting seperti pembangkit listrik, jika kesepakatan tidak tercapai,” kata Trump.
Pernyataan tersebut membuat harga minyak jenis brent kembali naik 4,45% menjadi US$105,66 per barel pada 09:58 WIB, padahal sebelumnya dibuka di kisaran harga US$99,34 per barel.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi data ekonomi RI, seiring inflasi Maret sebesar 3,48% , yang menunjukkan adanya lonjakan harga makanan dan energi.
Di sisi lain, ekspansi sektor manufaktur Indonesia melambat signifikan hingga nyaris stagnan pada Maret 2026 dengan adanya penurunan Purchasing Managers Index (PMI) menjadi 50,1, lebih rendah dari 53,8 pada Februari 2026.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih melemah terbatas, dan bergerak di kisaran level Rp16.900 per dolar AS hingga Rp17.050 per dolar AS. (jea)


