BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih tertekan, pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/3/2026) menjelang libur panjang dalam rangka Hari Raya Idul Fitri dan Nyepi. Di sisi lain, investor dinilai cenderung bersikap wait and see mencermati situasi di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak, dan sikap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi situasi yang ada.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level psikologis 7.000. Saham-saham yang diunggulkan pada perdagangan pekan ini, di antaranya PTBA, JPFA, CPIN, ULTJ, LSIP, dan ADMR.
Sementara itu, indeks di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026), penurunan ini kian menambah pelemahan secara mingguan.
Penguatan harga minyak mentah yang berlanjut menjadi sentimen negatif, di tengah konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir dalam waktu dekat, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi stagflasi.
Harga minyak Brent ditutup di atas level US$ 100 per barel selama dua hari berturut-turut dan harga minyak WTI menguat di atas level US$ 98/barel, pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026). Sedangkan harga emas melemah akibat penguatan Dolar AS, kekhawatiran kenaikan inflasi, serta memudarnya harapan penurunan suku bunga The Fed.
Perkembangan perang di Timur Tengah beserta dampaknya terhadap pasar energi masih akan mempengaruhi pergerakan indeks bursa global serta berperan pada serangkaian keputusan kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.
Bank Sentral AS, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% – 3,75%, pada Rabu (18/3/2026). Investor global juga akan mencermati proyeksi ekonomi The Fed terbaru. Investor akan mencari panduan bagaimana The Fed memandang risiko inflasi di tengah konflik AS-Iran, serta implikasinya terhadap kebijakan moneter di masa mendatang.
Di dalam negeri, investor sangat menantikan kebijakan apa yang akan ditempuh pemerintah untuk menghadapi kenaikan harga minyak mentah. Presiden Prabowo Subianto menyatakan lebih cenderung akan melakukan penghematan dan efisiensi anggaran daripada memperlebar defisit APBN.
Prabowo menekankan bahwa pemerintah menghadapi masalah kebocoran dan inefisiensi anggaran, sehingga masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan BI rate di level 4,75%, pada Selasa (17/3/2026). (nov)


