Perdagangan Akhir Pekan, IHSG Diprediksi Bergerak Sideways Rawan Profit Taking

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/7/2026) diprediksi  rawan profit taking dan cenderung sideways untuk menguji level resistance 6.000.

Pergerakan pasar saat ini dibayangi  sentimen negatif dari kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) freeze, status pemantauan S&P Dow Jones, dan eskalasi geopolitik AS-Iran yang memicu aksi jual asing.

Riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Jumat (10/7/2026) menyatakan bahwa pergerakan IHSG pada resistance 6.000, pivot 5.900, dan support 5.800. Saham-saham yang diunggulkan adalah BMRI, BRPT, DEWA, ESSA, dan TUGU.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 5.912,44 atau naik 0,67% pada perdagangan Kamis (9/7/2026), setelah  sempat bergerak melemah hingga level 5.839.

“Secara teknikal, penguatan IHSG tertahan di MA5 dengan Stochastic RSI yang berpotensi mengalami Death Cross. Namun histogram MACD masih bertahan di area positif sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.800-6.000,” demikian riset Phintraco Sekuritas.

Data penjualan sepeda motor di dalam negeri tumbuh 1,1% YoY menjadi 515.136 unit di Juni 2026, setelah turun 5.1% YoY di Mei 2026 di tengah  kenaikan inflasi dan BI Rate. Secara bulanan, penjualan sepeda motor tumbuh 7,5% MoM di Juni dari penurunan 8% MoM di Mei 2026.

Penjualan sepeda motor melemah 0,3% YoY mencapai 3,13 juta unit pada 1H26, sekitar 46,7%-48,9% dari target AISI hingga akhir tahun ini yang sebesar 6,4 juta hingga 6,7 juta unit. Selanjutnya investor akan menantikan data penjualan mobil bulan Juni 2026, yang akan dirilis hari ini, Jumat (10/7/2026).

Sementara itu, penjualan ritel turun 3,9% di Mei 2026, setelah turun 3,7% YoY pada April 2026.  Pelemahan  ini merupakan penurunan selama dua bulan berturut-turut dan koreksi tahunan terdalam sejak Mei 2023.

Hal ini mengindikasikan melemahnya belanja konsumen di tengah meningkatnya inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar non subsidi dan harga makanan. Penurunan penjualan terjadi pada produk makanan, minuman dan tembakau, pakaian, peralatan rumah tangga, serta penjualan peralatan informasi dan komunikasi.

Secara bulanan, penjualan ritel turun 1,5% MoM pada Mei 2026, setelah mengalami penurunan tajam sebesar 11,6% MoM di April 2026. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Bursa Wall Street Menguat, Dipimpin Saham Semikonduktor

BRIEF.ID – Perdagangan di Bursa Wall Street, New York,...

Piala Dunia 2026, Kylian Mbappe Samai Rekor Lionel Messi

BRIEF.ID – Kapten Timnas Prancis, Kylian Mbappe menjadi pusat...

Kalahkan Maroko 2-0, Prancis Raih Tiket Semifinal Piala Dunia 2026

BRIEF.ID – Tim Nasional Prancis memastikan meraih tiket semifinal...

Anggota DPR RI Rachmat Gobel Meninggal Dunia

BRIEF.ID - Anggota DPR RI sekaligus Chairman Panasonic Gobel, Rachmat...