Pengamat: Bukan Sekadar Konektivitas, Jalan Tol Penggerak Ekosistem Ekonomi

BRIEF.ID – Pembangunan jalan tol tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai penyediaan infrastruktur transportasi. Lebih dari itu, jalan tol memiliki peran strategis dalam membentuk ekosistem konektivitas (infraculture) yang menghubungkan wilayah, memperlancar mobilitas orang dan barang, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru.

Konektivitas yang semakin baik dapat meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses pasar, dan mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi di berbagai daerah. Namun, di balik manfaat tersebut, pembangunan jalan tol juga menghadirkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan pembangunan ekonomi dan keberlanjutan investasi.

Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, mengatakan bahwa pembangunan jalan tol perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya berdasarkan pendapatan dan tingkat pengembalian investasi badan usaha jalan tol (BUJT), tetapi juga manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat.

“Jalan tol jangan hanya dilihat sebagai ruas jalan tempat kendaraan membayar tarif. Nilai strategisnya justru terletak pada manfaat ekonomi yang tercipta dari konektivitas. Ketika wilayah semakin terhubung, mobilitas orang dan barang menjadi lebih efisien, akses terhadap pasar semakin terbuka, dan peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi baru semakin besar,” ujar Agus yang juga Managing Partner PH&H Public Policy Interest Group.

Menurutnya, manfaat ekonomi dari pembangunan jalan tol tidak selalu sejalan dengan tingkat keuntungan finansial yang diperoleh BUJT. Sebuah ruas tol dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan wilayah dan perekonomian daerah, meskipun pendapatan yang dihasilkan belum tentu sebanding dengan besarnya investasi yang harus ditanggung badan usaha.

Oleh karena itu, Agus menilai penting untuk membedakan sekaligus mengintegrasikan dua perspektif dalam menilai kelayakan proyek jalan tol, yakni kelayakan ekonomi (economic feasibility) dan kelayakan finansial (financial feasibility).

Kelayakan ekonomi mengukur manfaat proyek secara lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian, sedangkan kelayakan finansial menilai kemampuan proyek menghasilkan pendapatan yang memadai untuk mengembalikan investasi serta menjaga keberlanjutan pengusahaan jalan tol.

“Dalam menilai sebuah proyek, kita perlu memahami bahwa manfaat ekonomi dan keuntungan finansial merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya sama-sama penting. Infrastruktur bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat, tetapi dari sisi bisnis belum tentu menghasilkan tingkat pengembalian yang menarik bagi investor,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Agus menjelaskan bahwa Economic Internal Rate of Return (EIRR) dan Financial Internal Rate of Return (FIRR) merupakan dua indikator yang dapat digunakan untuk melihat kelayakan proyek dari perspektif yang berbeda.

EIRR menggambarkan tingkat pengembalian ekonomi dengan memperhitungkan manfaat proyek yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian. Sementara itu, FIRR mengukur tingkat pengembalian finansial berdasarkan arus kas dan investasi yang ditanggung badan usaha.

Perbedaan kedua indikator tersebut menjadi penting, terutama pada proyek jalan tol yang membutuhkan investasi besar, memiliki trafik yang belum berkembang optimal, atau memerlukan waktu panjang untuk mencapai tingkat pengembalian yang memadai.

“Bisa saja sebuah ruas memiliki EIRR yang positif karena memberikan manfaat besar bagi pengembangan wilayah, tetapi FIRR-nya belum menarik secara komersial. Di sinilah pentingnya melihat secara proporsional siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung biaya investasi,” kata Agus.

Menurut Agus, perspektif tersebut perlu menjadi bagian dari perencanaan dan evaluasi pembangunan jalan tol, terutama untuk memastikan bahwa proyek yang dikembangkan tidak hanya memberikan manfaat konektivitas, tetapi juga memiliki skema pembiayaan dan pengusahaan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan jalan tol tidak cukup diukur dari panjang ruas yang terbangun ataupun jumlah kendaraan yang melintas. Lebih luas dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan infrastruktur tersebut menghubungkan kawasan, meningkatkan efisiensi ekonomi, membuka pusat-pusat pertumbuhan baru, dan mendukung keberlanjutan investasi.

Dalam perspektif Infraculture, jalan tol menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan infrastruktur, aktivitas ekonomi, dan pengembangan wilayah. Nilai strategisnya tidak hanya terletak pada keberadaan jalan, tetapi juga pada aktivitas dan peluang ekonomi yang tumbuh di sepanjang jaringan konektivitas tersebut.

“Jalan tol merupakan investasi jangka panjang yang perlu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan investasi. Tantangannya adalah bagaimana menjembatani kepentingan pembangunan ekonomi dengan kemampuan proyek menghasilkan pengembalian finansial yang memadai,” tutup Agus.

“Ruas jalan tol dapat memberikan manfaat besar bagi pengembangan wilayah dan perekonomian daerah, tetapi manfaat tersebut belum tentu seluruhnya menjadi pendapatan komersial badan usaha. Kelayakan ekonomi melihat seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan perekonomian. Sementara kelayakan finansial melihat apakah investasi tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang memadai untuk mengembalikan investasi dan menjaga keberlanjutan pengusahaan,” paparnya.

Dalam menilai sebuah proyek jalan tol, lanjut Agus, salah satu indikator yang dapat digunakan adalah Economic Internal Rate of Return (EIRR), yang mencerminkan manfaat ekonomi suatu proyek secara lebih luas. Sementara Financial Internal Rate of Return (FIRR) menggambarkan tingkat pengembalian finansial proyek bagi badan usaha.

Agus menilai, tidak semua proyek jalan tol yang memberikan manfaat ekonomi besar secara otomatis memiliki FIRR yang tinggi. Terutama pada ruas yang membutuhkan investasi besar, berada di wilayah dengan trafik yang belum berkembang optimal, atau membutuhkan waktu panjang hingga manfaat ekonominya tercapai.

“Bisa saja sebuah ruas memiliki EIRR yang positif karena memberikan manfaat besar bagi pengembangan wilayah, tetapi FIRR-nya belum menarik secara komersial. Di sinilah pentingnya melihat siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung biaya investasi,” kata Agus.

Akhirnya, pembangunan jalan tol idealnya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada terciptanya ekosistem konektivitas yang produktif dan berkelanjutan. Bagi Agus, keberhasilan pembangunan jalan tol pada akhirnya tidak cukup diukur dari panjang jalan yang terbangun atau jumlah kendaraan yang melintas.

Ukuran yang lebih luas adalah sejauh mana infrastruktur tersebut mampu menghubungkan wilayah, menurunkan biaya ekonomi, membuka pusat pertumbuhan baru, sekaligus memberikan tingkat pengembalian finansial yang memungkinkan investasi jalan tol terus berkelanjutan.

“Jalan tol adalah investasi jangka panjang. Kita perlu menjembatani kepentingan pembangunan ekonomi dengan keberlanjutan investasi. Ketika konektivitas menghasilkan manfaat ekonomi yang besar, manfaat tersebut perlu diperhitungkan bersama dengan kemampuan proyek menghasilkan pengembalian finansial,” tutup Agus. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Meriah, Ribuan Warga Mataram Sambut Marc Marquez dan Para Rider MotoGP Mandalika 2026

BRIEF.ID – Kemeriahan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026...

IHSG Ambruk ke Bawah Level 6.100, Lebih dari 400 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rupiah Hari Ini Turun Lagi ke Level Rp17.900 Jelang Rilis Indeks Keyakinan Konsumen

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika...

Risalah Rapat FOMC The Fed Pertegas Tekanan Inflasi Makin Kuat

BRIEF.ID - Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC)...