BRIEF.ID – Pemerintah Indonesia mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW), sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi dan transisi energi bersih.
Target pembangunan 100 GW kapasitas listrik tenaga surya di seluruh Indonesia meliputi 80 GW PLTS berbasis desa dan 20 GW PLTS terpusat skala besar, yang didukung 320 GWh sistem penyimpanan baterai (BESS) agar listrik tetap stabil.
Sebagian besar proyek akan dikembangkan melalui koperasi desa dan kerja sama dengan perusahaan energi, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pengguna listrik tetapi juga pemilik aset energi.
“Sebenarnya di semua desa. Tetapi diprioritaskan di daerah-daerah yang sudah punya sistem distribusinya. Jadi, kurang lebih dari usulan awal 100 gigawatt mungkin ada 13, dari 100 gigawatt jadi 13 gigawatt terlebih dulu yang rencananya akan diprioritaskan,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Rosan mengatakan, pemerintah mencatat adanya investasi yang telah masuk untuk mendukung ekosistem industri tenaga surya di dalam negeri. Salah satunya yakni investasi untuk pembangunan pabrik dengan nilai investasi sebesar US$ 1,4 miliar.
“Jadi itu sudah 50 gigawatt. Jadi itu juga sudah investasi sudah masuk, akhir tahun ini akan selesai. Jadi itu juga akan membantu kita bisa pakai produksi dalam negeri kita untuk proyek PLTS ini,” katanya.
Lebih lanjut, Rosan menyampaikan telah ada satu prototipe pembangunan PLTS dari Danantara yang telah dikembangkan di Kabupaten Sumenep dengan kapasitas 1 megawatt.
“Nah, itu juga prototipe itu akan ditinjau, akan dilihat langsung oleh tim, baik oleh ESDM dan juga Mendikti untuk kemudian itu bisa di roll out,” lanjutnya.
Menurut Rosan, Presiden Prabowo Subianto mendorong agar pembangunan PLTS dapat dipercepat dengan memanfaatkan berbagai skema pendanaan. Danantara diminta untuk segera melihat dan mempelajari strukturnya.
“Baik dengan dalam negeri maupun dengan pihak swasta yang punya teknologi dan mempunyai kemampuan dari segi solar dan baterainya,” ujar Rosan. (nov)


