BRIEF.ID – Para “Raja Minyak” Amerika Serikat (AS) dikabarkan menolak ajakan Presiden Donald Trump untuk berinvestasi di industri minyak Venezuela, salah satunya ExxonMobil.
Seperti dilansir Financial Times, Presiden Donald Trump mengumpulkan para petinggi perusahaan energi AS, di Gedung Putih, pada Jumat (9/1/2026) siang waktu Washington DC atau Sabtu dini hari WIB.
Dalam pertemuan itu, Trump mengajakj perusahaan energi AS untuk berinvestasi dengan nilai minimal sebesar US$100 miliar dollar untuk sektor minyak Venezuela.
Trump menyatakan akan memutuskan perusahaan mana yang mendapat izin masuk ke Venezuela. Bagi yang dapat izin harus membuat keputusan cepat.
Meski demikian, hingga pertemuan selesai, tawaran investasi yang dilontarkan Trump tidak mendapat tanggapan positif dari para petinggi perusahaan energi.
Padahal Trump telah mengumumkan AS akan mengambil alih pengelolaan pemerintahan termasuk industri minyak Venezuela, pascapenangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Dalam pertemuan itu, Kepala Eksekutif ExxonMobil, Darren Woods, menyampaikan bahwa Venezuela tetap menjadi negara “tidak layak investasi” tanpa perubahan signifikan.
“Jika kita melihat konstruksi hukum dan komersial, kerangka kerja yang ada saat ini di Venezuela, saat ini tidak layak untuk investasi,” kata Woods kepada Trump dalam pertemuan yang dihadiri oleh banyak eksekutif energi terkemuka Amerika dan beberapa ajudan utama presiden.
Menurut Woods, perubahan signifikan harus dilakukan pada kerangka kerja komersial tersebut, sistem hukum, harus ada perlindungan investasi yang berkelanjutan, dan harus ada perubahan pada undang-undang hidrokarbon di negara tersebut.
“Perlu diketahui, aset ExxonMobil di Venezuela telah disita dua kali sejak Exxon pertama kali memasuki negara itu pada Tahun 1940-an,” ungkap Woods.
Pernyataan Woods menggarisbawahi bagaimana kelompok-kelompok energi terbesar tetap enggan untuk terburu-buru melakukan komitmen investasi di Venezuela meskipun Trump berupaya membujuk mereka untuk menginvestasikan setidaknya US$100 miliar ke negara itu untuk meningkatkan produksi dan menurunkan harga minyak. (jea)


