BRIEF.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, kinerja perbankan diproyeksikan tetap solid pada tahun 2026, di mana pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) tetap stabil karena ditopang kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat.
Hal itu diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Ia mengingatkan bahwa laju pertumbuhan kredit juga sangat tergantung kepada faktor eksternal, antara lain permintaan pembiayaan dari dunia usaha, kondisi iklim investasi dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Dian mengatakan, penguatan di seluruh aspek penopang pertumbuhan ekonomi tersebut akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan.
Sejauh ini, lanjutnya, intermediasi perbankan menunjukkan kinerja yang stabil dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai. Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 7,74% year on year (yoy) pada November 2025, naik dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,36% yoy, sehingga menjadi sebesar Rp 8.314,48 triliun.
OJK mencatat bahwa terdapat peningkatan pertumbuhan kredit secara signifikan menjelang akhir tahun. Kinerja intermediasi sampai akhir tahun 2025 diperkirakan semakin solid, dengan pertumbuhan kredit diperkirakan di atas batas bawah target yang ditetapkan OJK. Sementara DPK diyakini mencapai pertumbuhan dobel digit.
“Hal ini menunjukkan perbankan telah mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit dan sektor riil telah mulai menunjukkan perbaikan permintaan,” kata Dian dikutip dari Antara, Sabtu (9/1/2026).
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 17,98% yoy, diikuti kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,67% yoy. Sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 2,04% yoy.
Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 12% yoy. Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berat atau masih terkontraksi.
Dana pihak ketiga (DPK) pada November 2025 tumbuh sebesar 12,03% yoy atau meningkat dari sebelumnya sebesar 11,48% yoy sehingga menjadi sebesar Rp 9.899,07 triliun.
Lebih lanjut Dian mengungkapkan bahwa penurunan suku bunga perbankan terus berlanjut. Dibandingkan tahun sebelumnya, rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah tercatat turun 26 basis poin (bps) secara yoy menjadi 8,97% pada November 2025, terutama didorong oleh penurunan suku bunga kredit modal kerja yang turun 44 bps yoy.
Dari sisi penghimpunan dana, rata-rata tertimbang suku bunga DPK rupiah juga terpantau menurun sebesar 29 bps yoy menjadi 2,77%, dengan penurunan terutama pada suku bunga deposito.
Sementara itu, likuiditas industri perbankan pada November 2025 juga memadai dengan rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing sebesar 131,49% dan 29,67%, masih di atas threshold 50% dan 10%. Sedangkan liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 210,38%.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross dan NPL net per November 2025 masing-masing 2,21% dan 0,86%, membaik dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,25% dan 0,90%. Loan at risk (LAR) juga tercatat turun dari 9,41% pada bulan sebelumnya menjadi 9,22% pada November 2025.
Ketahanan perbankan juga tetap kuat, tercermin pada capital adequacy ratio (CAR) yang berada di level tinggi sebesar 26,05%, menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global. (nov)


