BRIEF.ID – Seseorang yang pernah berada di titik jatuh akan dapat bangkit kembali, apabila tidak gampang menyerah, konsisten menjaga nilai-nilai, berintegritas dalam membangun jejaring, dan menjadikan tanggung jawab sebagai kehormatan.
Hal itu disampaikan CEO Igico Advisory sekaligus Co-Founder Briefer, Neneng Herbawati saat menjadi pembicara utama pada talkshow dan workshop kepemimpinan bertema “Bagaimana Jadi Pemimpin Sukses Bawa Perusahaan Terbang Tinggi dan Disegani Karyawan,” yang diselenggarakan Netralnews.com di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
“Saya pernah mempunyai segalanya, saya pernah kehilangan segalanya. Dan, saya membangun kembali dari nol,” kata Neneng pada acara yang dipandu Pemimpin Redaksi Netralnews.com Zulha Handayani.
Menurut mantan Redaktur Pelaksana Harian Ekonomi, Bisnis Indonesia itu, disaat “jatuh” langkah pertama yang dilakukannya adalah memilih sikap untuk tidak menyerah pada apapun dan konsisten menjaga nilai-nilai etika.
“Saya memilih untuk membangun jaringan dengan integritas. Saya memilih untuk melihat tanggung jawab sebagai sebuah kehormatan. Alhamdulillah, saya mampu mengatasi kemelut yang menghadang di depan,” jelas dia.
Neneng membandingkan kehidupannya dengan Gen Z, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1997–2012. Gen Z, menurut dia, adalah sebuah generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent (AI), yang kerap dijuluki native digital.
Gen Z sebagai bagian dari Generasi Sandwich, kata dia, kini semakin nyata eksistensinya di Indonesia maupun negara-negara Asia lainnya. Generasi Sandwich digambarkan sebagai orang dewasa yang “terjepit” di antara membiayai orang tua dan membesarkan anak.
Dikatakan, apabila saat ini kalangan Generasi Sandwich sedang membantu orang tua, harus berbagi gaji untuk keluarga, dan bahkan merasa beban di pundaknya lebih berat dibandingkan teman-teman lain, sebenarnya itu bukan beban, tetapi kepercayaan.
“Justru, dari tanggung jawab itulah kapasitas kita dibesarkan. Saya pernah berada di titik itu. Dan, saya tahu rasanya kehilangan, saya tahu rasanya jatuh, dan saya tahu rasanya harus kuat meski berlum siap. Tekanan-tekanan itu tidak menghancurkan kita, tetapi membentuk kita menjadi pribadi yang kuat dan tahan uji,” jelas Neneng.
Pada kesempatan itu, Neneng secara khusus membagi tiga aspek yang wajib dilakukan Gen Z agar tetap relevan dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Ketiga aspek itu adalah upgrade skill, membangun jejaring (network), serta menjaga attitude dan nilai.
Pertama, karena dunia berubah sangat cepat seiring munculnya AI, digitalisasi, ekonomi kreatif, dan remote work, maka jangan pernah berkata malas untuk meng-upgrade skill. “Siapa yang tidak belajar ulang akan tertinggal,” kata Neneng.
Kedua, membangun jejaring agar peluang terbuka lebar. Pada era saat ini, peluang sering datang dari koneksi sehingga jejaring yang sehat akan membuka akses kerja, kolaborasi serta memberi mentoring dan dukungan.
“Namun, memperluas jejaring bukan sekadar kenal banyak orang, melainkan kita wajib membangun reputasi, menjaga kepercayaan, dan aktif di di komunitas professional,” kata dia.
Ketiga, menjaga attitude serta nilai agar dipercaya dan bertahan. Menurut Neneng, banyak orang pintar yang mempunyai banyak relasi. Tetapi yang bertahan lama adalah seseorang yang memiliki karakter baik.
“Karakter adalah fondasi kepemimpinan. Attitude penting bagi Gen Z.
Rendah hati disaat sukses, pantang menyerah disaat gagal, disiplin walau tanpa pengawasan, dan tidak mudah baper,” pungkas Neneng. (nov)


