BRIEF.ID – Banyak yang bertanya bagaimana menyikapi fluktuasi harga emas dunia saat konflik geopolitik Timur Tengah memanas. Apalagi penurunan harga emas dunia hingga hampir terhempas dari level US$4.000 per troy ounce bikin ketar-ketir.
Sepanjang tahun ini, harga emas dunia mengalami kenaikan signifgikan bahkan sempat menyentuh level tertinggi di US$5.595 per troy ounce, seiring serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Meski demikian, harga emas perlahan terkoreksi seiring serangan balasan Iran ke Israel dan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, serta blokade Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah.
Muncul pertanyaan, mengapa harga emas dunia yang biasanya melambung di tengah ketidakpastian global, justru terkoreksi saat perang berkecamuk di Timur Tengah? Berikut penyebabnya :
1. Tertekan Kenaikan Harga Minyak
Emas itu adalah non-yielding asset alias asset yang tidak ada bunganya. Ketika perang berkecamuk, dan memicu ketidakpastian global, seharusnya emas menjadi aset safe haven.
Masalahnya, perang yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah berdampak terhadap lonjakan harga minyak dunia, dipicu terganggunya pasokan akibat penutupan Selat Hormuz sejak 1 Maret 2026.
Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia, membuat kapal tanker tertahan, sehingga pasokan minyak ke berbagai negara terhambat.
Sejumlah negara menyatakan kekurangan pasokan minyak, terutama di kawasan Asia. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak dipicu pasokan yang terbatas.
Jika perang berlanjut, dan harga minyak mentah naik terus, maka harga bahan bakar minyak (BBM) di semua negara yang sangat tergantung dan attached dengan harga minyak mentah akan naik drastis.
Kenaikan harga BBM yang menjadi tulang punggung semua kegiatan bisnis, dan keuangan akan berdampak kepada kenaikan inflasi. Jika inflasi naik, maka bank sentral di semua negara akan menaikkan suku bunga acuan.
Kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada kenaikan borrowing cost atau yield surat utang semua negara. Dengan naiknya suku bunga acuan dan yield surat utang, maka berinvestasi di asset emas sudah tidak menarik lagi.
2. Aksi Ambil Untung
Harga emas dunia dalam setahun terakhir telah naik 89%, dan sempat menyentuh level tertinggi di US$5.595 per ounce. Meski sempat terkoreksi sejak serangan AS dan Israel ke Iran, harga emas dunia masih mencatat kenaikan sebesar 54%.
Penurunan sekitar 27% dari harga tertingginya ke level US$4.102 per ounce telah memicu buy the dip karena secara text book investasi, harga yang sudah jatuh mendekati 30% dari level tertingginya menarik untuk diakumulasi.
Aksi ambil untung atau profit taking pun tak terhindarkan, namun di sisi lain banyak investor yang justru mengambil kesempatan untuk menambah cadangan emas dunia, karena harganya diprediksi masih berpeluang melambung hingga menyentuh level US$6.000 sepanjang 2026-2027.
3. Gejolak Pasar Keuangan
Gejolak pasar keuangan, yang ditandai penurunan harga saham di bursa efek dunia memicu investor melakukan konversi aset, dengan menjual emas untuk menutup kerugian di pasar saham.
Meski demikian, transaksi kontrak berjangka emas dunia justru melonjak signifikan, saat harga emas dunia turun signifikan. Nampaknya investor berspekulasi harga emas dunia masih berpeluang melonjak meski perang berkecamuk.
Tercatat investor membeli 11.000 kontrak (sekitar 1,1 juta ons) berjangka emas dunia di harga US$15.000 sampai US$20.000 per troy ounce, yang akan berakhir di Desember 2026. Nilai kontrak berjangka dunia tersebut mencapai US$5,17 miliar.
Jika harga emas naik ke angka US$15.000 sampai US$20.0000 per troy ounce, maka 11.000 kontrak tersebut akan bernilai sekitar US16,5 miliar atau return investasinya sekitar 219%. Sebaliknya jika harga emas tidak mencapai US$15.000 dolar per ons, maka mereka akan mengalami kerugian sebanyak US$5,17 miliar.
Ketiga penyebab fluktuasi harga emas dunia tersebut, memang harus diantisipasi, agar pelaku pasar dapat menuai keuntungan saat memutuskan berinvestasi di emas batangan atau logam mulia.
Yang pasti, saat harga minyak terus melonjak, dan menyebabkan kenaikan BBM, yang memicu inflasi, emas batangan bukan pilihan investasi yang menguntungkan.
Meski demikian, jika konflik geopolitik di Timur Tengah tidak berlangsung lama sesuai prediksi, apalagi AS telah mencari jalur diplomatik dengan Iran untuk mengakhiri konflik, maka logam mulia menjadi aset yang mendatangkan cuan. (jea)


