BRIEF.ID – Guncangan yang terjadi di pasar saham Indonesia, dalam sepekan terakhir, yang ditandai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 15%, pengunduran diri pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI), dan elite Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Peristiwa itu terjadi karena dipengaruhi isu terkait peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait investabilitas pasar Indonesia, yang memicu aksi jual saham dan arus keluar modal asing.
Selain itu, publik kini dihadapkan pada isu pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) oleh Presiden AS Donald Trump. Bagaimana sentimen global dari keputusan itu berpotensi menular ke pasar modal Indonesia.
Perubahan kepemimpinan di bank sentral terbesar dunia, sekelas The Fed berpotensi memicu volatilitas pasar global, termasuk saham di Asia dan Indonesia. Ketidakpastian atas arah kebijakan suku bunga atau independensi bank sentral sering membuat investor berhati-hati, yang bisa menekan indeks saham dan menguatkan dolar AS, serta memperlemah aset berisiko seperti saham emerging market.
Hingga kini, belum ada laporan bahwa IHSG akan anjlok sebagai respons utama atas pencalonan Warsh. Banyak analis menilai efeknya lebih bersifat global dan tidak langsung, terutama melalui arus modal global, ekspektasi suku bunga AS, nilai tukar, dan sentimen risiko investor.
Investor domestik cenderung menunggu arah kebijakan The Fed yang sebenarnya, termasuk apakah Warsh akan mendukung pemangkasan suku bunga yang agresif atau cenderung mempertahankan tingkat yang lebih tinggi. Ketidakjelasan ini membuat pelaku pasar bersikap hati-hati, sehingga IHSG bisa menunjukkan gerak variatif (sideways), bukan reaksi tajam langsung pada berita pencalonan itu sendiri.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keyakinannya bahwa IHSG akan bergerak positif, pada perdagangan Senin (2/2/2026). Pergerakan ini, disebut-sebut sebagai awal pergerakan arah baru IHSG, pasca krisis pengunduran diri pimpinan BEI dan OJK.
“Nggak. Pasti bergerak naiklah,” kata Menkeu usai rapat di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026) malam.
Sementara itu, hasil riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance 8.600, pivot 8.400, dan support 8.150. Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya HMSP, TOBA, UNVR, BRIS, BBTN, dan GGRM.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan cenderung konsolidasi pada kisaran 8.150-8.600, pekan ini. Jika IHSG mampu bertahan di atas 8.600, berpotensi melanjutkan rebound,” demikian riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Senin (2/2/2026).
Disebutkan, pada pekan ini investor akan mencermati data tenaga kerja dan indeks PMI Amerika Serikat (AS). Selain itu, investor juga akan mencermati kelanjutan earning season saham sektor teknologi dan AI di AS.
Dari Eropa dilaporkan, pada pekan ini dijadwalkan ECB dan BoE akan menetapkan kebijakan moneternya. Sedangkan dari domestik, akan dirilis indeks PMI Manufacturing, pada Senin (2/2/2026). Pada hari yang sama akan dirilis neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi (5/2), serta cadangan devisa dan indeks harga properti, pada Jumat (6/2/2026).
Investor akan mencermati perkembangan gejolak pasar modal Indonesia setelah beberapa pejabat otoritas mundur. Langkah cepat dari pemerintah yang segera menunjuk pejabat sementara di OJK dan BEI serta adanya pernyataan dari pemerintah yang berupaya menenangkan investor, diharapkan akan membuat meredanya kekhawatiran investor akan ketidakpastian. Selanjutnya investor akan menantikan implementasi dari kebijakan yang sudah dicanangkan. (nov)


