BRIEF.ID – Indeks di Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Sebagian besar indeks mengalami penurunan, meskipun indeks ditutup jauh di atas level terendah intraday akibat dorongan dari sektor-sektor defensif seperti perawatan kesehatan dan barang konsumsi pokok.
Dow Jones Industrial Average naik 0,11% ke level 49.760,56; ; S&P500 turun 0,16% menjadi 7.400,96; Nasdaq Composite melemah 0,71% ke 26,088,22; dan Indeks Russell 2000 anjlok 0,97% ke angka 2.842,83.
Meskipun demikian, sentimen secara umum negatif karena laporan inflasi menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan di tengah tanda-tanda kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran. Saham-saham chip melemah setelah serangkaian kenaikan baru-baru ini, yang menyebabkan sektor teknologi secara keseluruhan turun.
Inflasi konsumen AS naik lebih dari yang diperkirakan secara tahunan pada April, sebagian besar didorong oleh kenaikan tajam harga bensin. Indeks harga konsumen tumbuh sebesar 3,8% YoY, lebih cepat dari prediksi sebesar 3,7% dan peningkatan 3,3% pada bulan Maret.
Ini adalah angka tercepat sejak Mei 2023. Bank Sentral AS, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah untuk sementara waktu, terutama karena para pejabat ingin menghindari gejolak pasar tenaga kerja.
Harga minyak naik di atas level US$ 100 per barel pada Selasa (12/5/2026), seiring memudarnya optimisme bahwa AS dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri kebuntuan dan membuka kembali Selat Hormuz.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 4 bps ke level 4,459% setelah investor menilai dampak kenaikan inflasi.
Harga emas spot melemah 1% di level US$ 4,685 per troy ons akibat meningkatnya kekhawatiran akan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga. (nov)


