BRIEFF.ID – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan, Brooklyn, New York, Amerika Serikat (AS), pada Minggu (4/1/2026).
Maduro diperkirakan akan menjalani pengadilan atas tuduhan menjadi pemimpin kartel narkoba dan senjata di New York, paling cepat pada Senin (5/1/2026).
Seiring dengan penahanan Maduro beserta sang istri, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan AS akan mengambil alih pemerintahan Venezuela, sampai pemerintahan transisi terbentuk.
“AS akan mengelola Venezuela sampai saatnya kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump, dalam pernyataan seperti dikutip BBC, Minggu (4/1/2026).
Menurut Trump, Perusahaan Minyak AS juga akan memperbaiki infrastruktur Venezuela yang rusak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu.
Pernyataan Trump tersebut memunculkan spekulasi bahwa Trump tidak serius dalam memperkuat demokrasi atau masa depan Venezuela, melainkan untuk menjarah kekayaan minyak negara Amerika Latin tersebut.
Seperti diketahui, Maduro dan istrinya, ditangkap di Caracas, Ibukota Venezuela, pada Sabtu (3/1/2025). Keduanya kemudian diterbangkan keluar dari Caracas dengan helikopter AS dan dibawa ke atas kapal USS Iwo Jima.
Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke New York melalui Kuba. Setelah tiba di New York, ia dibawa ke kantor Badan Penegakan Narkoba AS (DEA).

Setelah melalui pemeriksaan, Maduro kemudian dipindahkan dari kantor DEA di Manhattan ke Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn, New York.
Presiden Venezuela, yang telah lama berseteru dengan Trump tersebut, diperkirakan akan segera menjalani persidangan dengan tuduhan menjadi pemimpin kartel narkoba dan senjata.
Meski demikian, Maduro sebelumnya telah membantah menjadi pemimpin kartel narkoba. Dia bahkan menuding Trump sengaja menggunakan isu narkoba untuk menekan pemerintahannya, namun sebenarnya ingin menguasai minyak Venezuela.
Tekanan terhadap pemerintah Venezuela telah meningkat sejak Trump memulai periode kedua pemerintahannya pada Januari 2025. Trump bahkan menggandakan hadiah untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.
Pascapenangkapan Maduro, Venezuela telah mengumumkan keadaan darurat nasional dan mengecam “agresi militer” AS yang telah menangkap presiden dan ibu negara.
Mereka juga menuntut Trump menunjukkan bukti terkait tuduhan terhadap Maduro, apalagi dengan menyebut Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba dan senjata. (jea)


