BRIEF.ID – Aksi profit taking diperkirakan akan mewarnai perdangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis (15/1/2026) menjelang libur panjang akhir pekan, yang akan dimulai Jumat (16/1/2026).
Laporan Phintraco Sekuritas menyebutkan, investor perlu mewaspadai aksi profit taking yang berpotensi merontokkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Perlu diwaspdai potensi terjadinya profit taking pada perdagangan, Kamis (15/1/2026) menjelang libur long weekend,” demikian disebutkan dalam laporan itu.
Disebutkan, IHSG akan bergerak pada resistance 9.100, pivot 9.000, dan support 8.900. Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya BRIS, BMRI, BBTN, PSAB, dan SSIA.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 9.032,58 atau naik 0,94% pada perdagangan Rabu (14/1/2026), setelah sempat mencapai level intraday tertinggi baru di 9.049.
Ekspektasi berlanjutnya penurunan suku bunga The Fed, kenaikan harga komoditas, aliran masuk dana investor asing, dan aksi korporasi emiten menjadi faktor pendorong penguatan IHSG.
Nilai tukar Rupiah juga ditutup menguat di level Rp16.865 per dolar AS di pasar spot, pada Rabu (14/1/2026). Secara teknikal, terjadi Golden Cross IHSG dan pelebaran histrogram positif MACD sehingga diperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan menguji level 9.070-9.100.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), pada tahun ini. Langkah hilirisasi ini bertujuan menciptakan substitusi liquefied petroleum gas (LPG).
MIND ID dan Pertamina bekerja sama untuk percepatan hilirisasi batu bara menjadi berbagai produk energi alternatif, termasuk DMW, synthetic natural gas (SNG) dan metanol. Kebijakan ini berpotensi berpengaruh positif terhadap emiten batu bara yang melakukan penjualan ke dalam negeri.
Sementara itu, mayoritas indeks di bursa Asia ditutup menguat, pada Rabu (14/1/2026). Indeks di bursa Jepang yang menguat pada rekor tertinggi didorong ekspektasi Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi dapat menggelar pemilihan umum sela, pada Februari 2026.
Fenomena di Jepang saat ini dikenal sebagai Takaichi trade, yaitu terjadi pelemahan Yen Jepang, turunnya harga obligasi dan pasar saham yang kuat, karena ekspektasi PM Takaichi akan memberlakukan kebijakan yang mendorong perekonomian.
Neraca perdagangan Tiongkok membukukan surplus US$ 1,19 triliun pada tahun 2025 dengan pertumbuhan ekspor sebesar 5,5% dan impor stagnan. Menghadapi tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, Tiongkok mengalihkan ekspornya dari pasar AS ke pasar Uni Eropa dan Asia Tenggara.
Indeks di bursa Eropa dibuka mixed, pada Rabu (14/1/2026). Investor menantikan pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS dengan pajabat Greenland serta Denmark, yang akan digelar Kamis (15/1/2026), di tengah upaya berkelanjutan Presiden Trump mengambil alih Greenland. (nov)


