Lembaga Investasi Global Revisi Proyeksi Harga Emas Dunia, JP Morgan: Bisa Tembus US$6.300 per Troy Ounce

BRIEF.ID – Sejumlah lembaga keuangan dan investasi global kompak menaikkan proyeksi harga emas dunia di tahun ini, seiring ketidakpastian global, yang dipicu ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS). 

Adapun lembaga keuangan dan investasi global, yang merevisi proyeksi harga emas dunia, antara lain JP Morgan, Union Bank of Switzerland (UBS), Deutsche Bank, Morgan Stanley, Standard Chartered, CommerzBank, dan Macquire Group.

JP Morgan menaikkan proyeksi harga emas dunia jangka panjang sebesar 15% menjadi US$4.500 per troy ounce. Sementara proyeksi harga emas pada akhir 2026 diperkirakan mencapai US$6.300 per troy ounce.

UBS memprediksi harga emas dunia naik menjadi US$6.200 per troy ounce untuk periode Maret 2026 hingga September 2026. Deutsche Bank menaikan target harga emas menjadi US$6.000 per troy ounce hingga akhir 2026.

Sementara Morgan Stanley mematok harga dasar emas dunia di level US$4.600 per troy ounce dengan potensi bullish ke level US$5.700 per troy ounce di paruh kedua 2026.

Selanjutnya, Standard Chartered mematok proyeksi harga emas dunia di kisaran US$4.488 per troy ounce, dan CommerzBank memprediksi harga emas dunia di level US$4.800 per troy ounce pada pertengahan 2026.

Adapun Macquire Group membuat proyeksi harga emas dunia yang lebih konservatif, yakni di level US$4.590 per troy ounce pada kuartal I 2026, dari prediksi sebelumnya US$4.300 per troy ounce).

Untuk kuartal II 2026, Maacquire Group yang berbasis di Australia itu, mematok proyeksi harga emas dunia berada di level US$4.300 per troy ounce dari sebelumnya US$4.200 per troy ounce.

Revisi proyeksi harga emas dunia tersebut, dipengaruhi perkembangan ketegangan geopolitik Timur Tengah, terutama perkembangan perundingan nuklir AS dan Iran.

Ketidakpastian kebijakan tarif impor AS juga mempengaruhi pergerakan harga logam mulia. Pasalnya Mahkamah Agung memutuskan tarif global untuk produk impor ke AS dikembalikan ke angka 10%, sementara Gedung Putih menyebut akan mengeluarkan peraturan yang menaikan tarif impor menjadi 15% secara global.

Selain kedua faktor tersebut, JP Morgan menyebut peningkatan pembelian emas dunia oleh bank sentral, pengumuman publik mengenai divestasi US Treasury atau Obligasi pemerintah AS, serta pergerseran basis pendapatan sejumlah negara dari dolar AS ke Renimbi Tiongkok menjadi faktor utama revisi harga emas di tahun ini.

Kenaikan proyeksi harga emas dunia ini mencerminkan perubahan landscape kebijakan moneter global, terutama peningkatan pembelian logam mulia oleh bank sentral sebagai upaya diversifikasi cadangan ddvisa, dan mengurangi dominasi dolar AS.

Jika tren dedolarisisai dan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan terus berlanjut, maka harga emas berpotensi tetap berada dalam tren bullish hingga akhir 2026.

“Faktor-faktor tersebut menunjukkan sedang terjadi perubahan besar dalam sistem mata uang cadangan dunia, serta makin banyaknya investor yang menyebar modalnya ke berbagai instrumen investasi, terutama logam mulia,” sebut JP Morgan, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/2/2026). (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Akhir Pekan Melemah Efek Perundingan Nuklir AS-Iran

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika...

IHSG Akhir Pekan Terpuruk ke Zona Merah Imbas AS Naikkan Tarif Impor Panel Surya

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Harga Emas Antam Naik Tipis Imbas Perkembangan Perundingan Nuklir AS-Iran

BRIEF.ID - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk...

Gubernur Pramono Segera Hubungkan Empat Hotel di Bundaran HI

BRIEF.ID – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan, akan...