Konflik Timur Tengah, Berdampak IHSG Tertekan

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/3/2026) diperkirakan akan tertekan dan berpotensi terjadi volatilitas  sebagai imbas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel atas Iran, pada Sabtu (28/2/2026).

Konflik di Timur Tengah ini selain meningkatkan harga minyak dunia, juga berpotensi mendongkrak inflasi global, nilai tukar mata uang, dan kebijakan suku bunga di berbagai negara.

Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance 8.300, pivot 8.200, support 8.100.

Sementara itu, indeks di bursa  Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (27/2/2026) setelah dirilisnya data PPI yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.

Kecemasan pada sektor AI dan kredit swasta juga ikut menambah tekanan di pasar. Pada pekan ini,  beberapa data ekonomi AS yang dinantikan di antaranya indeks ISM Manufacturing, ISM non-manufacturing, ADP Employment change, Nonfarm payrolls, unemployment rate, dan Retail sales.

Di sisi geopolitik, terjadi eskalasi konflik setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran melalui udara dan laut, pada Sabtu (28/2/2026)  dan meningkatkan risiko global.

Dampaknya harga energi berpotensi naik dan investor global cenderung mengurangi exposure terhadap aset yang berisiko. Tewasnya pemimpin tertinggi Iran dan tokoh militer penting lainnya dikhawatirkan memicu perang terbuka yang lebih luas, seiring potensi serangan balasan Iran yang menargetkan pangkalan militer Israel dan AS di seluruh kawasan Timur Tengah.

Dampak perang AS-Iran diperkirakan akan menjadi sentimen negatif akibat meningkatnya ketidakpastian global, yang dipengaruhi oleh seberapa lama dan meluasnya perang akan berlangsung. Namun sektor energi dan emas diperkirakan akan menjadi sektor yang diuntungkan karena kenaikan harga komoditas.

Secara teknikal, jika IHSG menembus level 8.100 berpeluang menguji level 7.800-8.000. Ada peluang rebound  jika sentimen global mereda dan domestik solid.

Dari dalam negeri,  dijadwalkan akan dirilis sejumlah data indikator ekonomi, yaitu S&P Global Manufacturing PMI, pada Senin (2/3/2026) serta neraca perdagangan Januari 2026, inflasi Februari 2026 dan cadangan devisa Februari, pada Jumat (6/3/2026). Sementara  itu, penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan AS dari 19% menjadi 15% berpotensi menjadi faktor positif terhadap sektor berbasis ekspor.

Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya HRUM, NCKL, SMDR, AMMN, ERAA, dan MAIN. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

JK: Niat Presiden Prabowo Baik, Tetapi Dunia Sangat Ditentukan AS

BRIEF.ID - Wakil Presiden ke-10 dan 12 Republik Indonesia...

Militer AS Klaim Serang 1.000 Target di Iran

BRIEF.ID – Militer Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menyerang...

Serangan di Iran, Tiga Anggota Militer AS Tewas dan 5 Luka Parah

BRIEF.ID – Tiga anggota militer Amerika Serikat (AS) tewas...

Kedubes Iran Sambut Inisiatif Presiden Prabowo Jadi Mediator Konflik dengan AS dan Israel

BRIEF.ID - Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Jakarta menyambut...