BRIEF.ID – Konflik geopolitik Timur Tengah kini meluas ke serangan terhadap fasilitas ladang minyak dan gas (migas), dan meningkatkan kekhawatiran dunia dibayangi krisis energi.
Iran meningkatkan serangan terhadap aset energi regional, termasuk serangan drone ke ladang gas alam raksasa Shah di Uni Emirat Arab (UEA), pada Senin (16/3/2026).
Sementara Amerika Serikat (AS) terus menggencarkan serangan untuk menghancurkan pemblokiran Iran terhadap jalur pelayaran minyak dunia di Selat Hormuz.
Tak hanya itu, Presiden AS, Donald Trump juga mengancam akan meningkatkan serangan ke Pulau Kharg dan menghancurkan infrastruktur minyak milik Iran.
Sebelumnya, pasukan AS telah menyerang fasilitas militer di pusat ekspor utama Iran tersebut pada akhir pekan lalu, namun membiarkan infrastruktur energinya tetap utuh.
Hal itu membuat investor khawatir, karena konflik geopolitik Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini tak lagi menyasar fasilitas militer, tetapi meluas ke fasilitas ladang migas negara-negara Teluk.
Pada perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2026), harga minyak dunia kembali melonjak, setelah sempat anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$95 per barel, sementara Brent menetap di atas US$100 untuk sesi ketiga berturut-turut.
Iran mengklaim akan menyerang fasilitas ladang migas negara-negara sekutu AS, seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), sebagai aksi balasan atas serangan AS ke kapal militer Iran di Selat Hormuz.
Tak hanya itu, Iran menyebut serangan ke fasilitas ladang migas negara-negara Teluk, akan membuat produksi dan pasokan minyak dunia terganggu, dan harganya bisa menembus US$200 per barel.
Sulit Tercapai
Meski demikian, ekonom memandang peringatan Iran soal harga minyak dunia bisa menembus US$200 per barel barel sulit tercapai, kecuali jika terjadi skenario terburuk di mana konflik geopolitik Timur Tengah berlangsung lebih dari 6 bulan.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan harga minyak dunia bisa menembus US$200 per barel jika penutupan Selat Hormuz mencapai lebih dari 6 bulan dan fasilitas ladang migas di Timur Tengah mengalami kerusakan parah hingga tak bisa berproduksi.
“Kenaikan harga minyak dunia diprediksi dapat mencapai level ekstrem di US$200 per barel, jika jalur perdagangan migas dunia (Selat Hormuz) mengalami penutupan hingga 6 bulan lebih, dan kilang-kilang di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Qatar rusak akibat serangan,” kata Myrdal Gunarto, seperti dikutip Bloomberg Technoz, Selasa (17/3/2026).
Menurut dia, kerusakan pada fasilitas ladang migas negara-negara Teluk dapat menggangu suplai minyak dunia lebih dari 50%. Namun serangan Iran sudah diantisipasi negara-negara Teluk dan di backup oleh pangkalan militer AS, sehingga sulit untuk menimbulkan kerusakan parah.
Myrdal mengungkapkan, lonjakan harga minyak dunia di level ekstrem juga tak akan bertahan lama, karena negara-negara akan melakukan penghematan, juga mendiversifikasi sumber impor, sehingga permintaan minyak akan melandai.
Dia bahkan optimistis harga minyak mentah di kisaran US$100 per barel tidak akan bertahan dalam jangka waktu panjang, sebab permintaan juga melandai, seiring antisipasi negara-negara untuk melakukan diversifikasi sumber energi.
Pada perdagangan sesi pagi di Singapura, minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 0,8% menjadi US$103,98/barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 0,3% menjadi US$98,46/barel. (jea)


