Ketua KPK Ragukan Kebenaran LHKPN Pejabat Negara

BRIEF.ID – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango meragukan kebenaran laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang dilaporkan pejabat negara. KPK masih menemukan adanya indikasi penerimaan suap dan gratifikasi. Selain itu, KPK menemukan kelemahan di berbagai sektor pemerintahan dalam sistem administrasi.

Hal itu diungkapkan Nawawi saat berpidato pada  acara puncak peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2024 di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (9/12/2024).

Hadir pada kesempatan itu, antara lain Menko Polkam Budi Gunawan yang mewakili Presiden Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal  Pol Listyo Sigit Prabowo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, dan Ketua MPR RI Ahmad Muzani.

Nawawi mengatakan, LHKPN merupakan salah satu instrumen pencegahan korupsi yang diamanatkan undang-undang. Laporan yang rutin diperiksa KPK itu menjadi pertanggungjawaban pejabat publik ke masyarakat. Untuk itu, ia berharap pejabat bisa melaporkan LHKPN sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya.

”Namun, kebenaran isi laporan masih memprihatinkan. Pemeriksaan LHKPN masih menemukan indikasi penerimaan suap dan gratifikasi  di kalangan pejabat publik,” ujarnya.

Disebutkan, untuk  mengukur kedalaman korupsi, KPK melakukan survei integritas kepada 92 instansi tingkat pusat dan 542 pemerintah daerah. Pencegahannya fokus pada delapan area, yakni perencanaan, penganggaran, pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik, pengawasan aparat pengawas, manajemen ASN, pengelolaan badan milik daerah, dan optimalisasi.

Secara keseluruhan, indeks pencegahan korupsi di daerah pada 2023 nilainya 75. Lewat hal tersebut, sinergi KPK dan pemerintah daerah menyelamatkan Ro 114,3 triliun keuangan negara lewat penertiban aset dan penagihan tunggakan pajak daerah.

Lebih lanjut Nawawi  memaparkan, capaian Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) yang berhasil menyumbang Rp 3 triliun penerimaan negara dengan potensinya yang mencapai Rp 30,2 triliun.

Jumlah ini  bersumber dari pengenaan denda terhadap perizinan sawit dan tambang di atas kawasan hutan di lima provinsi dan perbaikan tata kelola perizinan mineral dan batubara (minerba). Secara spesifik, untuk minerba, Stranas PK menyumbang tambahan penerimaan negara sebesar Rp 7,7 triliun pada 2023 lewat minimalisasi mark-up anggaran sebesar 20 persen.

Selain pencegahan, sepanjang 2020-2024, KPK sudah menangani 597 perkara di sektor hukum, infrastruktur, sumber daya alam, kesehatan, dan lainnya. Penindakan dibutuhkan untuk memberikan efek jera bagi koruptor dan memulihkan keuangan negara. Sebesar Rp 2,49 triliun (2020-2024) berhasil disumbangkan KPK lewat pemberantasan korupsi kepada kas negara. Spesifik 2024, pemulihan keuangan negara sebesar Rp 677,59 miliar.

Pada kesempatan itu,  Nawawi mengajak para pejabat publik yang hadir untuk merefleksikan sejauh mana mereka telah berperan dalam memberantas korupsi.

”Sudah sejauh mana kita berkontribusi dalam memerangi korupsi. Apakah kita sudah berperan aktif dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas di lingkungan kita?” katanya. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Airlangga: Pengendalian Inflasi dan Digitalisasi, Kunci Pertumbuhan Ekonomi

BRIEF.ID - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pengendalian inflasi...

Prabowo Apresiasi Kinerja BI Jaga Stabilitas dan Ketahanan Ekonomi Nasional

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Pertemuan Tahunan Bank...

Akhiri Kevakuman Kepemimpinan, Munas Khusus IKAL Bentuk Tim Formatur 

BRIEF.ID  – Musyawarah Nasional (Munas) Khusus Ikatan Keluarga Alumni...

Hari Guru 2025, Momen Presiden Prabowo Peluk Azzam

BRIEF.ID – Momen mengharukan mewarnai acara puncak peringatan Hari...