BRIEF.ID – Iran melawan balik serangan tetapi tidak lebih tangguh dari yang diperkirakan militer Amerika Serikat (AS) sebelum perang, kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine kepada wartawan di Pentagon, pada Selasa (10/3/2026). Pentagon menyebut, serangan itu adalah yang paling intens dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 hari.
Disaat Garda Revolusi Iran mengancam akan memblokir pengiriman minyak dari Teluk, Pentagon langsung memperbarui ancaman untuk menyerang Iran lebih keras. Pengiriman dapat mengalir melalui Selat Hormuz di lepas pantai Iran serta menyatakan bahwa AS telah menyerang kapal-kapal penebar ranjau Iran beserta fasilitas penyimpanan ranjau.
“Hari ini, akan menjadi hari serangan paling intens kami di dalam Iran. Jumlah pesawat tempur terbanyak, jumlah pesawat pengebom terbanyak, jumlah serangan terbanyak, intelijen yang lebih canggih dan lebih baik dari sebelumnya,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth dalam sebuah pengarahan di Pentagon.
Dikutip dari Reuters, Iran menolak untuk tunduk pada tuntutan Trump agar membiarkan Amerika Serikat memilih kepemimpinan barunya, dan menunjuk tokoh garis keras Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi untuk menggantikan ayahnya, yang tewas pada hari pertama perang.
Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS dan misi diplomatik di negara-negara Teluk Arab, juga menyerang hotel, menutup bandara, dan merusak infrastruktur minyak.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada 3 Maret 2026 bahwa AS akan memberikan perlindungan melalui Selat Hormuz untuk kapal tanker minyak. Tetapi Pentagon belum mengumumkan rencana apa pun untuk melakukan itu di tengah pertempuran berkecamuk.
Militer AS telah mulai mencari cara untuk berpotensi mengawal kapal melalui Selat Hormuz, jika diperintahkan untuk melakukannya, kata Caine.


