BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ada 8 komoditas berdasarkan kelompok pengeluaran yang menjadi pemicu lonjakan inflasi pada Oktober 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan ke-8 komoditas tersebut berada dalam 2 kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terdapat 7 komoditas yang memberi andil besar lonjakan inflasi, yaitu cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, dan daging sapi.
“Inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebesar 4,82%, dan memberi andil terhadap total inflasi Oktober 2026 sebesar 1,40%,” kata Ateng, dalam konferensi pers, di Jakarta, pada Senin (2/11/2026).
Sedangkan berdasarkan kelompok pengeluaran untuk perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat mengalami inflasi sebesar 4,52%, dan memberi andil terhadap total inflasi sebesar 0,32%.
“Pada kelompok ini, yang memberi andil kenaikan inflasi terbesar adalah komoditas emas dan perhiasan,” ujar Ateng.
Menurut dia, 7 komoditas pangan yang merupakan kebutuhan pokok memberi andil besar pada lonjakan inflasi, karena harganya melambung tinggi sepanjang Oktober 2026 dan masih berlanjut hingga November 2026.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia, yang dirilis hari ini, harga komoditas cabai rawit merah mencapai Rp124.400 per kilogram (kg).
Harga beras kualitas bawah I di harga Rp20.900 per kg, beras kualitas bawah II Rp20.450 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp22.300 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp22.350 per kg.
Sementara minyak goreng curah di harga Rp25.650 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp31.650 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp28.800 per liter.
Kemudian, harga daging ayam ras segar Rp53.750 per kg, daging sapi kualitas I Rp162.500 per kg, dan daging sapi kualitas II di harga Rp151.900 per kg.
Selain 8 komoditas tersebut, kelompok pengeluaran yang juga memberikan andil besar untuk lonjakan inflasi Oktober 2026 adalah transportasi, yang mengalami inflasi 4,87% dengan andil pada total inflasi sebesar 0,59%.
“Inflasi pada kelompok transportasi terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan pemeliharaan service, dan mobil,” ungkap Ateng.
Seperti diketahui, BPS hari ini mengumumkan inflasi Oktober 2026 naik menjadi 3,23% secara tahunan atau Year-on-Year (yoy) dibandingkan 2,86% pada Oktober 2025. Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 112,56 pada Oktober 2026 dari 109,04 pada Oktober 2025.
Laju inflasi pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,22% secara bulanan atau month-to-month (mtm). Itu berarti terjadi kenaikan IHK menjadi 112,56 pada Oktober 2026 dari 112,31 pada September 2026.
“Sementara inflasi sepanjang tahun ini atau year-to-date (ytd) tercatat sebesar 2,4%,” kata Ateng, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Meski ada potensi melambat, tetapi laju inflasi masih di level tinggi, yakni dekat dengan batas atas inflasi yang ditargetkan Bank Indonesia (BI), yakni 3,5%.
Bloomberq memperkirakan inflasi Indonesia menjelang akhir tahun kemungkinan berada di atas target BI, didorong oleh kenaikan biaya kredit dan harga pangan akibat El Nino.
Selain itu, dampak dari lonjakan harga minyak, dan potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) juga akan mempengaruhi berbagai harga barang dan jasa.
Sementara S&P Global Market menilai, masalah lain yang berpotensi memicu lonjakan inflasi Indonesia adalah bukan soal prospek dan potensi ekonomi, melainkan kepercayaan investor yang tergerus, dan dapat berimbas pada penurunan daya beli di seluruh pasar. (Jea)


