BRIEF.ID Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berbalik arah ke zona hijau imbas pengumuman S&P Global terkait Purchasing manager’s Index (PMI) Indonesia.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (2/11/2026), IHSG ditutup menguat 0,95% atau 48,15 poin ke level 5.105. Sebelumnya pada awal perdagangan IHSG dibuka melemah 0,35% atau 17,51 poin ke posisi 5.039.
Sepanjang sesi I perdangan yang berakhir pukul 12:00 waktu JATS, IHSG terpantau bergerak mixed dengan menyentuhb level tertinggi di 5.125, dan level terendah di 4.981.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 344 saham naik harga, 256 saham turun harga, dan 116 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 20,891 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 939.399 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp6,967 triliun.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak menguat terbatas di kisaran level support 4.980 hingga level support 5.150, dipengaruhi oleh rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkait inflasi Oktober 2026 yang naik menjadi 3,23% secara tahunan atau Year-on-Year (yoy) dibandingkan 2,86% pada Oktober 2025..
Aktivitas Manufaktur
IHSG yang semula tertekan, perlahan berbalik arah ke zona hijau seiring pengumuman S&P Global yang menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia terus ekspansif di tengah ketidakpastian global.
Seperti dilansir Bloomberg, S&P Global mengumumkan PMI Indonesia berada di level 52,4. PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang ekspansif.
Posisi PMI Indonesia pada Oktober 2026 menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024, juga sedikit lebih tinggi dibanding September 2026 yang sebesar 54.
S&P Global mengungkapkan Indeks Pemesanan Baru (New Orders) Indonesia melesat menuju level tertinggi dalam lima tahun. Ini membuat volume produksi meningkat ke posisi tertinggi sejak Maret 2024.
“Penjualan ke pasar luar negeri juga meningkat, dengan pemesanan ekspor mencapai laju tercepat sejak April 2011 atau periode pencatatan. Dunia usaha merespons dengan meningkatkan pembelian bahan baku, meski tambahan penciptaan lapangan kerja masih terbatas,” bunyi pernyataan S&P Global.
EkonomS&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyampaikan hal itu menunjukkan sektor manufaktur Indonesia mengawali kuartal IV 2026 dengan solid.
Dia menambahkan, ekspansi sektor manufaktur Indonesia terjaga solid, ditopang oleh peningkatan permintaan termasuk ekspor, meskipun ada tekanan pada biaya produksi dan ekspor karena kenaikan harga minyak dunia.
“Ini menunjukkan keyakinan dunia usaha tetap tinggi. Ke depan, area yang perlu mendapat perhatian adalah penciptaan lapangan kerja, di mana hanya ada peningkatan yang marjinal,” kata Bhatti. (Jea)


