BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS), pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat ditutup menguat setelah data terbaru menunjukkan laju inflasi mulai melambat, memperkuat harapan bahwa tekanan harga semakin terkendali dan membuka peluang bagi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan atau mulai melonggarkan kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Sentimen positif mendorong kenaikan indeks-indeks utama Wall Street, seiring meningkatnya optimisme investor terhadap prospek perekonomian dan laba perusahaan. Saham-saham sektor teknologi, konsumsi, dan keuangan menjadi penopang utama penguatan pasar.
Penguatan bursa tidak dinikmati oleh semua emiten. Saham International Business Machines Corporation (IBM) justru mengalami penurunan tajam setelah perusahaan menyampaikan prospek bisnis yang mengecewakan investor.
Indeks S&P 500 naik 0,4% untuk memulihkan sebagian dari kerugian 0,8% pada hari sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 9 poin, atau kurang dari 0,1%, dan indeks komposit Nasdaq naik 0,9%.
Saham-saham mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil (yield) di pasar obligasi, yang turun setelah sebuah laporan menyatakan bahwa konsumen AS harus membayar harga bensin, makanan, dan biaya hidup lainnya yang 3,5% lebih tinggi bulan lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut tidak seburuk tingkat inflasi 4,2% pada bulan Mei atau 3,9% yang diperkirakan para ekonom untuk bulan Juni.
Kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan di sejumlah segmen usaha serta panduan kinerja yang dinilai kurang kuat memicu aksi jual pada saham perusahaan teknologi tersebut.
Meski demikian, secara keseluruhan sentimen pasar tetap positif. Investor kini menantikan serangkaian data ekonomi berikutnya, termasuk perkembangan pasar tenaga kerja dan pernyataan pejabat Federal Reserve, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter dan prospek pasar keuangan Amerika Serikat. (nov)


