BRIEF.ID – Indonesia kini mendorong emas menjadi pilar baru ekonomi, setelah membangun pengaruh komoditas global di bidang minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPo), batubara, dan nikel.
Hal itu, terlihat dari dukungan penuh pemerintah terhadap peluncuran bank emas batangan pertama di Indonesia, dan kemampuan pengolahan emas domestik yang terintegrasi penuh.
Kehadiran bank emas ini selaras dengan momentum kenaikan harga emas global yang berulang kali mencapai rekor tertinggi pada Tahun 2025.
Selain itu, Indonesia juga telah mencapai kemampuan memproduksi emas murni secara domestik, mulai dari bijih mentah hingga emas batangan, seiring kemajuan teknologi di fasilitas peleburan Freeport Indonesia.
Pemerintah telah menunjuk PT Pegadaian (Persero) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sebagai penyedia layanan bank emas batangan resmi di Indonesia.
Menurut Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, keberadaan bank emas mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor emas murni, sebuah anomali yang sudah lama terjadi bagi negara dengan cadangan emas yang besar.
“Dengan adanya bank emas, Indonesia dapat membangun ekosistem emas terintegrasi dari hulu hingga hilir, di mana pengelolaan, penyimpanan, pembiayaan, dan perdagangan emas dilakukan sepenuhnya di dalam negeri,” kata Damar, dikutip di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Dia mengungkapkan, sebelum pegadaian ditunjuk sebagai bank emas batangan, bisnis emas perseroan berfokus pada investasi ritel. Dengan beroperasi sebagai bank emas, aset emas yang dikelola Pegadaian meningkat tajam, yakni mencapai 132,3 ton pada akhir November 2025.
Melalui layanan bank emas, Pegadaian menawarkan sejumlah produk, antara lain deposito emas, pinjaman modal kerja yang didukung emas, perdagangan emas fisik, dan layanan kustodian untuk klien ritel dan korporat.
Sementara layanan emas batangan di BSI lebih berfokus pada penggunaan yang berkaitan dengan syariah Islam, termasuk produk tabungan emas untuk biaya haji dan umrah.
Tonggak Penting
Kehadiran bank emas menjadi tonggak penting industri emas batangan di Indonesia. Tak hanya meningkatkan harga emas batangan domestik, keberadaan bank emas juga mendorong prooduksi emas batangan dalam negeri.
Sepanjang 2025, harga emas domestik naik tajam dengan emas batangan dari perusahaan tambang milik negara, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik sekitar Rp1 juta (US$60) per gram. Pada 2 Januari 2025, harga emas batangan Antam tercatat berada di level Rp1,52 juta per gram, dan naik menjadi Rp 2,50 juta per gram pada 31 Desember 2025.
Beberapa minggu sebelum bank emas batangan diluncurkan secara resmi, PT Freeport Indonesia mengirimkan batangan emas murni produksi dalam negeri pertamanya seberat 125 kilogram ke Antam.
Hal ini, menandai tonggak penting bagi ambisi pertambangan hilir Indonesia, karena Freeport Indonesia telah memproses sekitar 12,56 ton lumpur anoda di anak perusahaannya, PT Smelting, yang menghasilkan 189 kilogram batangan emas.
“produksi ini termasuk 125 kilogram emas murni dengan kemurnian 99,99% yang dikirim ke Antam,” kata kepala eksekutif Freeport Indonesia, Tony Wenas.
Freeport dan Antam juga telah menandatangani perjanjian jual beli emas batangan selama lima tahun, yang mencakup 30 ton emas senilai US$12,5 miliar.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan pada peluncuran bank bullion pada Februari 2025 bahwa layanan bullion dapat menambah Rp245 triliun (US$14,7 miliar) produk domestik bruto (PDB), dan menciptakan 1,8 juta lapangan kerja.
Meski demikian, para ekonom menilai perbankan bullion kemungkinan tidak akan memberikan dorongan langsung pada aktivitas ekonomi riil dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Secara teori, bank bullion lebih terkait erat dengan pendalaman keuangan daripada secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi riil,” kata Wisnu Nugroho, seorang ekonom di Universitas Gadjah Mada. (UGM).
Pemerintah memperkirakan keberadaan smelter dan bank emas dapat mendorong produksi bijih emas Indonesia meningkat dari sekitar 100 ton per tahun menjadi 160 ton per tahun.
Kesenjangan
Berdasarkan data Survei Geologi AS, Indonesia memproduksi sekitar 100 metrik ton emas pada tahun 2024, jauh di bawah produsen utama seperti Tiongkok, Australia, dan Kanada.
Meski demikian, cadangan emas Indonesia mencapai sekitar 3.600 metrik ton pada Januari 2025, melebihi cadangan Kanada dan Tiongkok, serta melampaui cadangan emas AS yang dilaporkan.
Terkait dengan itu, kesenjangan antara produksi yang relatif sederhana dan cadangan yang besar harus mendapat perhatian khusus pemerintah Indonesia, demi mendorong peran emas sebagai aset keuangan strategis daripada input industri.
Ekonom UGM lainnya, Diny Ghuzini, mengatakan perbankan emas batangan perlu memiliki hubungan yang lebih dalam dengan ekonomi riil untuk mendorong pertumbuhan.
“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, harus ada saluran yang menghubungkan sektor riil (produksi emas) dengan sektor keuangan (bank emasa),” kata Diny.
Dirut Pegadaian menyampaikan keyakinan bahwa layanan bullion akan memiliki dampak jangka panjang yang signifikan, dengan mengutip pengalaman di India, Turki, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
“Kehadiran layanan bullion menempatkan Indonesia sejajar dengan praktik terbaik internasional dalam membangun ekosistem emas terintegrasi dari hulu hingga hilir, sekaligus memperkuat posisi negara dalam rantai nilai emas global,” tutur Damar. (jea)


