BRIEF.ID – Indonesia diprediksi menjadi bright spot emerging market di Tahun 2026, meski rentan terhadap dampak kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Hal itu, tertuang dalam The World Ahead 2026 yang diterbitkan The Economist pada akhir 2025, dengan tema tahun penuh ketidakpastian akibat kebijakan Donald Trump.
Dalam prediksi tersebut, The Economist memprediksi Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domectik Bruto (PDB) Indonesia tetap resilien >5% tanpa akselerasi besar.
Peluang untuk PDB Indonesia berasal dari relokasi rantai pasok ke ASEAN, termasuk potensi tambahan investasi asing.
Sedangkan World Economic Forum (WEF) dalam prediksi terkini dari Chief Economists Outlook (September 2025) dan persiapan Davos 2026 dengan tema A Spirit of Dialogue, menekankan kolaborasi di tengah fragmentasi global.
WEF menilai ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh di atas 5%, dengan
risiko utama adalah disrupsi perdagangan akibat tarif Trump, serta tekanan pada ekspor komoditas (nikel, CPO, batubara).
“Risiko lainnya adalah pelemahan rupiah dan inflasi jika terjadi capital outflow (modal keluar) global,” bunyi laporan Chief Economist Outloook WEF.
Baik The Economist maupun WEF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia resilien (GDP >5%), tapi sensitif terhadap tarif Trump dan slowdown global economy.
IHSG
Sementara untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), The Economist memperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi jangka pendek karena ketidakpastian geopolitik.
Proyeksi jangka panjang, IHSG akan positif, mengalai kenaikan >10% ke rekor tertinggi baru, didukung oleh stimulus domestik dan pemotongan suku bunga.
Pada awal 2026, IHSG akan mengalami volatilitas awal, tapi tren jangka panjang adalah menguat lebih dari 10% atau mencetak rekor baru, jika faktor domestik kuat.
IHSG diprediksi menembus level 9.500 bahkan berpeluang menyentuh level 10.000, tergantung pengelolaan risiko global. (jea)


