BRIEF.ID – Indeks di bursa Wall Street New York, Amerika Serikat (AS), ditutup menguat pada perdagangan Senin (2/2/2026) waktu setempat.
Penguatan indeks didukung oleh kenaikan saham-saham sektor barang konsumsi defensif. Para pelaku pasar juga mengabaikan aksi jual berkelanjutan pada emas dan perak serta mengalihkan fokus ke arah perkembangan perdagangan, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa telah mencapai kesepakatan dengan India.
Trump menyatakan, India setuju untuk berhenti membeli minyak Rusia, dan membeli lebih banyak dari AS. Hal ini membuka peluang untuk membeli minyak dari Venezuela. Pembelian minyak Rusia oleh India telah menjadi poin penting dalam negosiasi perdagangan dengan AS.
Selain itu, Trump juga mengatakan bahwa AS dan India telah mencapai kesepakatan perdagangan di mana AS akan menurunkan tarif timbal baliknya menjadi 18% dari 25%.
Sebagai imbalannya, India berkomitmen untuk membeli produk Amerika senilai lebih dari US$ 500 miliar. Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS telah menunda laporan ketenagakerjaan Januari 2026 yang seharusnya dirilis pada hari Jumat (30/1/2026), karena penutupan sebagian pemerintah.
Namun shutdown ini diperkirakan tidak akan separah tahun lalu, karena Senat AS diperkirakan akan segera mengesahkan paket anggaran.
Imbal hasil US 10-year Bond naik lebih dari 4 bps ke level 4,283%. Harga emas dan perak melanjutkan koreksi yang dimulai pada akhir pekan lalu. Harga emas turun 4% ke level US$ 4662 per troy ons di pasar spot, Senin (2/2/2026). Sedangkan harga perak melemah 6% di level US$ 78 per troy ons.
CME Group menaikkan persyaratan margin berlaku mulai Senin setelah penutupan pasar. Margin pada kontrak berjangka emas COMEX dinaikkan menjadi 8% dari 6%, sementara margin pada kontrak berjangka perak COMEX dinaikkan menjadi 15% dari 11%. Harga minyak mentah melemah karena meredanya ketegangan AS-Iran, penguatan Dolar AS dan cuaca yang hangat. (nov)


