BRIEF.ID – Lonjakan harga saham di Bursa Efek Tokyo, Jepang memimpin kenaikan pasar Asia, pada Selasa (13/1/2025) di tengah optimisme investor pada berbagai hal terkait Artificial Intelligent (AI). Sementara itu, ketidakpastian mengenai independensi bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve menguntungkan emas.
Di pasar saham, Nikkei Jepang melonjak 3,3% ke level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini dibantu penurunan yen ke level terendah sepanjang sejarah dan banyak pembicaraan tentang stimulus fiskal.
Laporan mengkonfirmasi bahwa Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi berencana mengadakan pemilihan umum lebih awal dengan harapan dapat memperkuat mayoritas parlemen koalisinya, yang akan memberikan ruang lingkup untuk kebijakan yang lebih agresif.
“Kami melihat ekuitas global terus naik pada tahun 2026, menargetkan kenaikan sekitar 10% untuk MSCI AC World hingga akhir tahun,” kata analis di Citi.
“Valuasi yang tinggi menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan jika perusahaan gagal memenuhi perkiraan pendapatan, tetapi lingkungan makro ‘soft landing’, momentum revisi yang solid, dan meluasnya dorongan terkait AI pada akhirnya akan cukup untuk mendukung keuntungan,” dikutip dari laporan D’Origin, Rabu (14/1/2026).
Musim rilis laporan keuangan emiten kuartal IV dimulai minggu ini, diawali dengan bank-bank besar di antaranya JPMorgan Chase, Bank of New York Mellon, Citigroup dan Bank of America.
Para investor juga masih mempertimbangkan investigasi kriminal Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua Fed Jerome Powell dan apa artinya bagi independensi lembaga tersebut di masa depan.
Para analis khawatir Fed dapat ditekan untuk menurunkan suku bunga terlalu jauh dan terlalu lama, yang pada akhirnya menyebabkan lonjakan inflasi yang menyakitkan.
Keributan atas kebijakan The Fed terbukti menguntungkan logam mulia karena harga emas menembus angka US$ 4.600 per ons untuk pertama kalinya, sebelum stabil di US$ 4.596.
Sementara itu, pasar saham Eropa dibuka lebih tinggi secara luas pada hari Selasa (13/1/2026), dengan investor terus memantau perkembangan geopolitik dan data ekonomi.
Indeks FTSE Inggris dibuka datar, DAX Jerman dan CAC 40 Prancis naik masing-masing 0,2%. Sedangkan Indeks FTSE MIB Italia dibuka 0,14% lebih tinggi.
Saham-saham Eropa memulai pekan perdagangan baru di wilayah positif karena investor mempertimbangkan perkembangan geopolitik di Iran, dan peluncuran investigasi kriminal terhadap Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell.
Powell mengatakan pada hari Minggu bahwa penyelidikan itu adalah upaya lain dari Presiden Donald Trump untuk memengaruhi kebijakan moneter bank sentral dan bahwa dia tidak akan tunduk pada tekanan tersebut.
Harga minyak melanjutkan kenaikannya pada Selasa (13/1/2026) sore karena meningkatnya kekhawatiran seputar Iran dan potensi gangguan pasokan lebih besar daripada prospek peningkatan pasokan minyak mentah dari Venezuela.
Harga minyak Brent berjangka naik 47 sen menjadi US$ 64,34 per barel mendekati level tertinggi dalam dua bulan. Minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 45 sen, atau 0,8%, menjadi US$ 59,95 per barel.
“Kenaikan harga ini terjadi di tengah meningkatnya protes di Iran, yang meningkatkan kemungkinan intervensi dalam bentuk tertentu oleh AS,” kata ahli strategi komoditas ING, Selasa (13/1/2026). (nov)


