BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (6/2/2026) diperkirakan rawan terkoreksi menyusul keputusan Moody’s Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia, dari stabil menjadi negatif.
Penurunan itu berarti lembaga pemeringkat internasional tersebut menilai bahwa prospek kondisi kredit suatu negara atau perusahaan memburuk dibanding sebelumnya, meskipun peringkat kreditnya saat ini belum berubah.
Outlook ini juga memberi sinyal tentang kemungkinan apakah peringkat kredit bisa diturunkan, ditingkatkan, atau tetap dalam jangka menengah (biasanya 12–24 bulan). Negatif menunjukkan bahwa risiko lebih besar dan arah peringkat bisa turun pada masa depan jika kondisi tidak membaik.
“Perubahan outlook didasari pada penurunan tingkat prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dalam mengindikasikan pelemahan tata kelola sehingga berpotensi menjadi sentimen negatif pada perdagangan Jumat (6/2/2026),” demikian disebutkan dalam riset Phintraco Sekuritas.
Riset itu juga memperkirakan bahwa IHSG berpotensi menguji level support di 8.000. Saham-saham yang diunggulkan adalah CDIA, SCMA, ARTO, TPIA, dan ISAT.
Sementara itu, IHSG ditutup melemah di level 8.103,88 atau turun 0,53% pada perdagangan Kamis (5/2/2026), setelah sempat bergerak di teritori positif.
Pelemahan indeks, antara lain dipicu oleh sentimen negatif dari melemahnya indeks di bursa Asia dan koreksi harga emas, meskipun data pertumbuhan ekonomi Kuartal IV-2025 di atas perkiraan.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9%-5,7% untuk tahun 2026.
Selanjutnya, investor akan menantikan dirilisnya laporan cadangan devisa bulan Januari 2026 dan indeks harga properti di Kuartal IV-2025 pada Jumat (6/2/2026).
Ekonomi Indonesia tumbuh 0,86% QoQ pada Kuartal IV-2025, di atas estimasi yang sebesar 0,68% QoQ, meskipun lebih rendah dari 1,42% QoQ di Kuartal III-2025. Hal ini menandai pertumbuhan kuartalan selama tiga kuartal berturut-turut, meskipun melambat akibat adanya bencana alam di Sumatera.
Pertumbuhan ekonomi secara tahunan tercatat sebesar 5,39% YoY di Kuartal IV-2025, berakselerasi dari 5,04% YoY di Kuartal III-2025 dan di atas estimasi 5,01% YoY. Pertumbuhan ini juga pertumbuhan tahunan yang paling kuat sejak Kuartal III-2022 dengan didukung oleh pertumbuhan sektor swasta dan investasi yang meningkat.
Pertumbuhan ekonomi tahun fiskal 2025 tercatat sebesar 5,11% YoY, di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2% YoY, namun lebih baik dari 5,03% YoY pada tahun 2024. (nov)


