BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup terkoreksi, imbas pemerintah mengumumkan rencana pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) solar dan pertalite.
Hingga akhir perdagangan saham hari ini pada pukul 16:00 waktu JATS, IHSG ditutup terkoreksi 0,61% atau 43,45 poin ke level 7.048. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendah di 7.031, dan level tertingi di 7.155.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 406 saham turun harga, 262 saham naik harga, dan 151 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan mencapai 27,266 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.748.020 kali, dan nilai transaksi Rp14,973 triliun.
Pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka menguat 0,44% di level 7.122. Namun IHSG perlahan berbalik arah ke zona merah, seiring pengumuman pembatasan pembelian BBM solar dan pertalite.
Pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) telah menerbitkan peraturan mengenai pembatasan pembelian jenis BBM Tertentu (solar), dan jenis BBM Khusus Penugasan (pertalite).
Dalam Surat Keputusan Kepala BPH Migas Nomor 024/KOM/BPH.DBBM/2026, disebutkan pembatasan pembelian solar dan pertalite berlaku efektif mulai 1 April 2026.
PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha penugasan diwajibkan mengendalikan penyaluran BBM bersubsidi. Pembatasan ini diterapkan untuk kendaraan bermotor roda empat, baik perorangan maupun umum untuk angkutan orang dan barang.
Untuk Pertalite, ketentuan pembelian maksimal yang ditetapkan adalah 50 liter per hari untuk setiap kendaraan. Sementara untuk Solar, pembatasan serupa juga diberlakukan, yakni paling banyak 50 liter per hari untuk setiap kendaraan bermotor roda empat.
Pembatasan pembelian BBM nampaknya memicu kekhawatiran investor terhadap pasokan yang terganggu akibat dampak konflik geopolitik Timur Tengah.
Hal ini, sekaligus menjadi sinyal jelas tentang potensi krisis energi global yang telah diprediksi berbagai kalangan, sejak Iran menutup Selat Hormuz pada 1 Maret 2026. (jea)


