IHSG Ditutup Melemah Tipis, Bursa Asia Jatuh

BRIEF.ID –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI),  Jumat (20/2/2026) melemah tipis sebesar  2 poin atau  turun 0,03% ke level 8.271.

Saat penutupan, tercatat volume perdagangan mencapai 448,8 juta lot saham atau  mencapai Rp19,90 triliun.  Saham top gainers LQ45; EXCL, SMGR, AMMN, ADMR, BBRI, ISAT, MDKA. Sedangkan saham top losers LQ45;MBMA, INKP, AMRT, JPFA, BRPT, AADI, KLBF.

Sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 0,92% terkerek saham-saham, di antaranya EXCL yang naik 0,09%, ISAT +1,80%, CASS +1,66%, TBIG +0,57%, dan PGAS +0,46%.

Sedangkan sektor konsumer non cyclical tergerus cukup signifikan yaitu  1,53%. Saham-saham sektor itu yang terkoreksi cukup dalam di antaranya INDF  yang turun  1,12%, ICBP -1,23%, KLBF -2,31%, GGRM -3,69%, dan HMSP -5,91%.   

Sementara itu, mayoritas bursa saham  di Asia jatuh pada perdagangan hari Jumat (20/2/2026) sore. Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) menuju kenaikan mingguan terbesar dalam empat bulan dan harga minyak naik karena peningkatan aksi militer AS di Timur Tengah dan koreksi tajam saham private equity juga berdampak.

Penurunan juga terjadi pada saham-saham private equity, setelah Blue Owl Capital menjual aset dan secara permanen menghentikan penarikan dana triwulanan dari salah satu reksadananya. Keputusan ini memicu kekhawatiran lebih luas tentang valuasi dan likuiditas di sektor tersebut.

Saham Blue Owl ditutup sekitar 6% lebih rendah dan saham-saham pesaing yang lebih besar, Apollo Global Management dan Blackstone turun lebih dari 5%.

Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk membuat kesepakatan tentang program nuklirnya atau siap menghadapi hal-hal  sangat buruk.  Ancaman Trum  membuat investor menjauhi risiko, kata Kenji Abe, Kepala Strategi di Daiwa Securities di Tokyo  dikutip dari Reuters.

Di pasar valuta asing, Dolar AS menuju kenaikan mingguan terbesar dalam empat bulan berkat serangkaian data AS yang sedikit lebih kuat dan risalah dari Federal Reserve yang menunjukkan tidak ada terburu-buru untuk menurunkan suku bunga.

Dalam perdagangan valuta asing, Dolar menuju kenaikan mingguan terbesar dalam empat bulan berkat serangkaian data AS yang sedikit lebih kuat dan risalah  Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal belum  menurunkan suku bunga. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Daur Ulang Kimono Tradisional Jepang  

BRIEF.ID – Kimono tradisional adalah pakaian adat khas Jepang...

Perdagangan Pekan Depan, IHSG Diproyeksi Masih Sideways

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

OJK Denda Rp 5,35 Miliar Influencer Belvin Tannadi

BRIEF.ID - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif...

Pledoi Yoki Firnandi Tepis Tuduhan Korupsi dan Mengaku Jadi Objek Kriminalisasi

BRIEF.ID - Terdakwa kasus korupsi tata kelola minyak mentah...