BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bertahan di zona hijau, dan ditutup melesat 1,12% pada perdagangan Kamis (22/10/2026).
Pada akhir perdagangan hari ini, IHSG ditutup menguat 1,12% atau 59,54 poin ke level 5.387. Sebelumnya pada awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 1,27% atau 67,88 poin ke posisi 5.396.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG lebih banyak bergerak di zona hijau, dengan menyentuh level tertinggi di 5.422, dan level terendah di 5.185.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 467 saham naik harga, 204 saham turun harga, dan 123 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang perdagangan hari ini mencapai 37,665 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.102.711 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp16,207 triliun.
Dari nilai transaksi tersebut, investor asing terpantau melakukan pembelian sebesar Rp4,9 triliun, sedangkan investor domestik memborong saham senilai Rp11,3 triliun.
Penguatan IHSG ditopang saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berkapitalisasi besar, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Harga saham TLKM terpantau melejit 3,77% atau Rp80 menjadi RTp2.200 per lembar, BMRI melesat 4,05% atau Rp150 menjadi Rp3.850 per lembar, BBNI melonjak 4,92% atau Rp160 menjadi Rp3.410 per lembar, dan BBRI naik 3,20% atau Rp90 menjadi Rp2.900 per lembar.
Hal itu, mendandai penguatan IHSG tiga hari berturut-turut, setelah terkoreksi dalam selama dua hari perdagangan sejak pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang mengusulkan pasar modal Indonesia turun kelas dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 16 Oktober 2026.
Laporan terbaru dari lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings, yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di semester II 2026, dan berlanjut hingga 2 tahun ke depan, tak menyurutkan niat investor untuk kembali masuk ke pasar saham.
Kondisi ini, menunjukkan mulai kembalinya kepercayaan pelaku pasar, seiring penerapan sejumlah kebijakan BEI dalam rangka mereformasi pasar modal Indonesia.
Seperti diketahui, BEI telah menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris dari sebelumnya sebesar 15% menjadi 7% mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
BEI juga mengeluarkan dua kebijakan baru, yaitu penambahan keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan 1%, dan mengeluarkan seluruh saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
Saat ini, terdapat 80 berkategori HSC. BEI menyebut, sejumlah saham HSC juga telah mendapat sanksi akibat melakukan pelanggaran pasar modal.
Selain itu, pelaku pasar juga menyambut positif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di kisaran 5,75%, di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Sejumlah kebijakan moneter yang dikeluarkan BI untuk menjaga stabilitas rupiah, dan mengendalikan inflasi, dinilai tetap memberikan insentif bagi dunia usaha dan menopang daya beli masyarakat. (Jea)


