IHSG Berpotensi Bearish, Investor Dihimbau Waspada

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari pertama perdagangan sesudah libur panjang, Rabu (25/3/2026) diperkirakan berpotensi melemah (bearish) sehingga investor dihimbau untuk mewaspadai gejolak yang terjadi di pasar.

Riset Phintraco Sekuritas yang dipublikasi, Kamis (25/3/2026) menyebutkan bahwa pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG akan menguji level support  di angka 6.800-7.000. Adapun saham-saham yang diunggulkan, di antaranya  MEDC, ELSA, ENRG, SIDO, dan INDY.

“IHSG diperkirakan berpotensi melemah dan menguji level support  di 6.800-7.000,” demikian disebutkan dalam riset itu.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 7.106,84 atau  1,20% pada perdagangan Selasa (17/2/2026) setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75%.

BI juga menurunkan ambang batas pembelian Dolar Amerika Serikat, yang wajib melampirkan dokumen pendukung menjadi US$50 ribu dari US$100 ribu, yang bertujuan meredam aksi spekulasi yang dapat memperburuk volatilitas Rupiah.

Aturan ini mulai berlaku 1 April 2026 dengan masa transisi hingga 30 April 2026.  BI juga telah meningkatkan batas transaksi hedging menjadi US$10 juta per transaksi  dari US$ 5 juta per transaksi agar korporasi dapat mengelola risiko nilai tukar.

Pemerintah RI menyatakan sedang mengkaji sejumlah langkah efisiensi anggaran, terutama di pos pengeluaran Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dinilai masih bisa ditekan, untuk menjaga disiplin fiskal dan memastikan program prioritas tetap berjalan di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia.

Selain itu, Pemerintah juga mengkaji kebijakan WFH satu hari seminggu atau opsi kerja 4 hari bagi ASN dan swasta untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Investor sangat menantikan kebijakan apa yang akan ditempuh oleh Pemerintah. Di sisi lain, kenaikan harga LNG  berpotensi menguntungkan Indonesia sebagai eksportir LNG dengan pasar ekspor ke Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok.

Gejolak harga minyak mentah dan gas memicu bank sentral dunia siaga penuh terhadap potensi inflasi yang kembali meningkat. Pada pekan lalu,  The Fed, ECB, BoE , BoJ dan Bank of Canada juga mempertahankan suku bunga masing-masing tetap.

The Fed masih memproyeksikan satu kali penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada tahun ini, namun investor sudah tidak memperhitungkan hal tersebut karena kecemasan akan inflasi. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Iran Dikabarkan Bakal Tuntut AS Konsesi Signifikan

BRIEF.ID – Sikap  Iran makin  mengeras  sejak perang dimulai...

Iran Lancarkan Gelombang Serangan Rudal ke Israel, 6 Orang Terluka

BRIEF.ID – Iran menyerang Israel dengan gelombang serangan rudal...

Pernyataan Presiden Trump Rontokkan Harga Saham di Wall Street

BRIEF.ID - Indeks harga saham di bursa Wall Street...

Bursa Wall Street Bergejolak, Indeks Utama Turun  

BRIEF.ID - Indeks di Wall Street ditutup melemah pada...