IHSG Bergerak Sideways, Kenaikan Harga Minyak Sebagai Faktor Negatif

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (13/3/2026) di Bursa Efek Indonesia (BEI), diperkirakan akan bergerak sideways  menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kehati-hatian investor, dan  fluktuasi harga minyak mentah.

Pada perdagangan akhir pekan ini, IHSG  diprediksi akan bergerak di rentang  resistance  7.450, pivot  7.350, dan support  7.250. Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya BBCA, ICBP, ISAT, AADI. dan ESSA.

“Secara teknikal, diperkirakan IHSG masih akan cenderung bergerak sideways menjelang libur panjang. IHSG diperkirakan akan bergerak pada kisaran 7.250-7.400,” demikian menurut riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Jumat (13/2/2026).

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 7.362,12 atau  0,37% pada perdagangan Kamis (12/3/2026).   Sentimen negatif, antara lain berasal dari masih berlangsungnya konflik AS-Iran yang menimbulkan harga minyak mentah kembali mengalami penguatan.

Sektor cyclical mencatatkan koreksi terbesar dan sektor transportasi membukukan penguatan terbesar. Kenaikan harga minyak mentah ini meningkatkan kecemasan akan potensi inflasi dan melebarnya defisit APBN, serta potensi defisitnya neraca perdagangan migas.

Mayoritas indeks di bursa Asia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Harga minyak WTI menguat di atas level US$ 92 per barel dan minyak Brent menguat hingga di atas level US$ 97/barel. Nilai tukar Rupiah di pasar spot melemah di level Rp16.885 per Dolar AS.   

Laporan terjadinya serangan terhadap beberapa kapal tanker di sekitar Timur Tengah  mendorong kenaikan harga minyak mentah. Laporan ini muncul tidak lama setelah IEA mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah dalam skala terbesar dalam sejarahnya.

Tidak ada tanda-tanda de-eskalasi di Teluk Persia membuat harga minyak mentah tetap diperdagangkan di harga tinggi, karena belum terlihat tanda-tanda akan berakhir gangguan aliran minyak di Selat Hormuz. Keputusan IEA juga memberikan sinyal bahwa tingginya  risiko gangguan suplay minyak, serta menunjukkan bahwa IEA tidak percaya perang ini akan segera berakhir.

Menyikapi masih tingginya ketidakpastian kapan perang ini akan berakhir, semakin meningkatkan risiko akan dampaknya terhadap kenaikan inflasi dan perlambatan ekonomi global. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kenaikan Harga Minyak Tekan Indeks Bursa Wall Street Ditutup Melemah

BRIEF.ID -  Indeks di Wall Street ditutup melemah cukup...

Rekam Jejak Pasar Saham AS

BRIEF.ID – Ketika pasar saham  bergejolak hebat seperti yang...

Dubes Iran di PBB Pastikan Tidak Memblokir Selat Hormuz

BRIEF.ID - Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)...

ITB Berlin 2026 Dorong Potensi Transaksi Pariwisata Indonesia Rp14,91 Triliun

BRIEF.ID - Pemerintah Indonesia mencatat ada potensi transaksi pariwisata...