IHSG Balik Arah ke Zona Merah, 5 Saham Ini Jadi Pemberat

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berbalik arah ke zona merah dan ditutup melemah di bawah level 7.300 pada sesi I perdagangan hari ini, Kamis (26/3/2026).

Pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka menguat 11,54 poin atau 0,16% ke level 7.313. Meski demikian, IHSG perlahan tertekan dan berbalik arah ke zona merah.

Hingga penutupan sesi I perdagangan hari ini pada pukul 12:00 waktu JATS, IHSG terkoreksi 88,03 poin atau 1,21% ke level 7.214. Sepanjang 3 jam perdagangan saham, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.323, dan level terendah di 7.196.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 349 saham turun harga, 296 saham naik harga, dan 173 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Volume saham yang ditransaksikan terpantau mencapai 19.585 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.044.369 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp25,951 triliun.

Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) terpantau aktif dilepas investor, hingga menjadi pemberat IHSG. Ada 5 saham yang menjadi pemberat utama IHSG, yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Berikut data perdagangan 5 saham big caps yang menjadi pemberat IHSG pada sesi I perdagangan hari ini, Kamis (26/3/2026):

• TLKM: turun 3,64% menjadi Rp3.180 per lembar mengurangi 11,61 poin IHSG
• SMMA: turun 3,55% menjadi Rp575 per lembar, mengurangi 7,04 poin IHSG
• ASII: turun 4,55% menjadi Rp6.300 per lembar, mengurangi 6,16 poin IHSG
• BREN: turun2,16% menjadi Rp5.675 per lembar, mengurangi 5,57 poin IHSG
• BBRI: turun 1,13% menjadi Rp3.500 per lembar, mengurangi 3,15 poin IHSG.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi cenderung berada di zona merah, dan berpotensi bergerak di kisaran level support 7.190, dan level resistance 7.330.

Tekanan lonjakan harga minyak dunia terhadap pasar keuangan global, terutama di emerging market, membuat IHSG rawan terkoreksi karena capital outflow atau arus modal asing keluar.

Kekhawatiran investor terkait kondisi fiskal negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dan kecenderungan inflasi tinggi akibat kenaikan harga minyak, membuat dolar AS menjadi instrumen investasi yang lebih menguntungkan dibandingkan saham. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Menguat di Bawah Level Rp16.900 per Dolar AS Meski Dibayangi Tekanan Eksternal

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah hari ini, Kamis...

Harga Buyback Emas Antam Turun di Bawan Rp2,5 Juta per Gram

BRIEF.ID - Harga pembelian kembali (buyback) emas batangan PT...

BBRI Siapkan Dividen Payout Ratio Lebih Besar

BRIEF.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang...

IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan

BRIEF.ID – Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan...