BRIEF.ID – Jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Siloam Jakarta Barat, pada Sabtu (4/4/2026) menghadiri Ibadah “Sabtu Sunyi” yang merupakan bagian dari rangkaian Pekan Suci menjelang perayaan Paskah, pada Minggu (5/4/2026).
“Sabtu Sunyi” yang jatuh di antara Jumat Agung dan Hari Paskah menjadi momen refleksi iman mendalam bagi jemaat atas kematian dan penguburan Yesus Kristus. Dalam suasana sederhana dan hening, umat diajak untuk merenungkan makna pengorbanan Kristus seraya menantikan kemenangan kebangkitan-Nya.
Demikian diungkapkan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Pendeta Nancy Nisahpih Rehatta dalam khotbahnya berjudul “Harapan di Tengah Duka” (Yohanes 19:38-42) pada Ibadah “Sabtu Sunyi.”
“Hanya empat orang yang mengantar jenazah Yesus ke kubur; yaitu seorang kaya raya yang juga Imam/Anggota Sandherin Yusuf dari Arimatea, Nikodemus, Maria Magdalena, dan Maria Ibu Yesus. Tuhan memakai berbagai latar belakang orang, di mana ada yang berani bertindak dan ada yang setia menyertai,” kata Pendeta Nancy.
Pendeta Nancy menegaskan, Yesus tetap Raja meski mati secara fisik. Sebagai Raja, Yesus tetap bekerja, meski dunia mengira semuanya telah selesai. Allah bekerja melalui orang-orang tersembunyi, seperti Yusuf dari Arimatea, Nikodemus, Maria Magdalena, dan Maria Ibu Yesus yang bertindak aktif mengurus jenazah Yesus.
Sementara itu, pemimpin Yahudi dan para imam datang kepada Pontius Pilatus untuk meminta kubur Yesus dijaga ketat. Mereka khawatir jika kubur tidak dijaga ketat, murid-murid Yesus akan mencuri jenazah-Nya dan mengatakan bahwa Ia telah bangkit. Saat itu, terdapat batu besar yang digunakan sebagai penutup kubur. Kubur disegel dan tidak boleh dibuka.
“Para murid berada dalam kemurungan dan kesedihan yang sangat dalam. Koq bisa, orang yang mereka harapkan menjadi pemimpin besar, menjadi pengganti Daud, mati dengan cara yang begitu mengerikan, terhina, disalibkan sebagai penjahat,” jelas Pendeta Nancy.
Ia mengatakan, pada “Sabtu Sunyi,” Yesus terus bekerja untuk menyempurnakan bagiannya, meski terdapat berbagai usaha untuk mengunci Yesus dalam kubur.
“Memang tubuh yang terkapar itu mati secara fisik, tetapi saat itu Dia turun ke dalam kerajaan maut untuk memberitakan kepada kerajaan maut “hai maut dimanakah kekuasaanmu, hai maut dimanakah kemampuanmu untuk mengalahkan anak-anak Tuhan.” Saat itulah, Dia turun untuk mematikan maut,” kata Pendeta Nancy.
Menurut tradisi Yahudi, ujar Pendeta Nancy, seseorang yang telah mati biasanya sudah selesai. Ia mendeskripsikan keberadaan maut seperti mulut singa yang terus terbuka dan tertutup.
“Kalau masuk ke dalam mulut maut pasti dicengkram. Karena itu, orang Yahudi takut mati. Umur panjang, kata hukum taurat kelima akan diberikan kepada orang-orang yang mengasihi orang tuanya,” kata Pendeta Nancy.
Sesuai tradisi GPIB, “Sabtu Sunyi” mengajarkan kepada umat bahwa apa yang disegel manusia, pasti sanggup dibuka Tuhan. Dan, apa yang tampak terkunci, Tuhan sanggup membukanya kembali. Dari kubur yang terkunci, kemenangan terbesar dinyatakan. “Yesus tidak bisa dikurung oleh maut, sebab Ia adalah Raja atas hidup dan mati,” kata Pendeta Nancy. (nov)


