BRIEF.ID – Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Pendeta Nancy Nisahpih Rehatta menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik. Dia sangat mengenal domba-domba-Nya, bahkan rela memberikan nyawa-Nya bagi keselamatan domba-dombaNya.
Dalam khotbahnya “Memberikan Nyawa Bagi Tebusan” yang terambil dari Injil Yohanes 10:11-15, Pendeta Nancy menyampaikan sebuah gambaran nyata tentang identitas Yesus sebagai Gembala yang baik, yang tidak sekadar memimpin, tetapi rela menyerahkan nyawa-Nya.
“Yesus tidak meninggalkan umat-Nya disaat maut mengancam. Dunia mungkin menawarkan banyak “gembala upahan” seperti power, harta, dan kekuatan – yang kemudian meninggalkan umat disaat krisis, tetapi Yesus tetap tinggal hingga tetes darah terakhir,” kata Pendeta Nancy saat memimpin Ibadah Perjamuan Kudus Jumat Agung di GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Jumat (3/4/2026). Selain mengadakan Ibadah Perjamuan Kudus di Gereja, Pendeta Nancy juga mengunjungi jemaat yang tidak hadir di kediaman mereka.

Pendeta Nancy mengungkapkan bahwa kata “mengenal” dalam bahasa Yunani di Alkitab “ginosko” yang berarti bukan sekadar mengetahui nama dan perawakan. Tetapi “mengenal” karena mempunyai pengalaman pribadi, mempunyai hubungan intim atau pengenalan relasional, dan bukan sekadar informasi intelektual.
“Jadi, hubungan intim tidak tercipta disaat kita jauh dari Tuhan, apalagi kita tidak pergi ke gereja, tidak beribadah, tidak berdoa, dan tidak membaca firman. Padahal keintiman merupakan metode untuk mencapai Allah, jalan untuk mendekatkan diri kita dengan Allah,” jelas dia.
Disebutkan, apabila manusia menjauh dari Tuhan maka pengenalan Tuhan kepada umat tidak akan berdasarkan pengalaman. Pengenalan Tuhan terhadap umat, lanjutnya, seharusnya masuk sampai ke dalam relung-relung hati.
“Itu pentingnya pengenalan, kedekatan, atau keintiman dengan Tuhan sehingga apapun yang terjadi pada diri kita, kita akan menceritakan semua kepada Tuhan. Betapa kita marah, betapa kita kesal, dan betapa kita sayang kepada Tuhan, kepada orang lain. Itu semua kita ceritakan,” ujarnya.
Menurut Pendeta Nancy, kehadiran seseorang di gereja, baik dari pagi, siang, maupun malam, tetapi tidak membangun persekutuan intim dengan Tuhan, hal itu adalah nol besar. Seseorang, kata dia, bisa saja rajin hadir di gereja, tetapi belum tentu mengenal Yesus secara pribadi.
Sikap itu, katanya, sama seperti “gembala upahan,” yang berada di lingkungan rohani, tetapi tidak mempunyai keterikatan sejati dengan Tuhan. Sebab, Tuhan melihat hati bukan rutinitas.
“Keintiman itu akan membuat Yesus semakin mengenal kita. Dia tahu kelemahan kita, Dia tahu ketakutan kita. Dosa-dosa yang kita sembunyikan. Tidak ada yang bisa kita tutupi dari Tuhan,” katanya.
Umat mengenal Yesus, lanjutnya, karena umat merupakan domba-domba yang telah menjadi milik Kristus. Ia meyakini bahwa domba pasti mengenal suara Gembala. Demikian juga orang percaya, peka terhadap suara Tuhan dan taat kepada-Nya.
“Kita sebagai domba mengenal suara Tuhan. Domba itu hanya mempunyai penglihatan sekitar satu setengah meter jaraknya. Lebih dari itu buram semuanya. Domba langsung mengenali suara gembala, tidak peduli dengan suara lain,” kata Pendeta Nancy. (nov)


