BRIEF.ID – Harga saham di Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) anjlok tajam setelah harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2024. Indeks S&P 500 turun 0,6%, pada penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026).
Dow Jones Industrial Average sempat turun lebih dari 1.100 poin sebelum akhirnya ditutup dengan penurunan 784 poin atau 1,6%. Indeks komposit Nasdaq juga turun 0,3%.
Penurunan terjadi karena pasar keuangan di seluruh dunia terus mengikuti pergerakan harga minyak. Kenaikan tajam menimbulkan kekhawatiran bahwa lonjakan jangka panjang dapat menghancurkan ekonomi global, menguras kemampuan rumah tangga untuk berbelanja, dan mendorong suku bunga lebih tinggi.
Harga minyak mentah acuan AS per barel melonjak 8,5%, pada Kamis (5/3/2026) dan ditutup pada US$ 81,01 per barel. Minyak mentah Brent, standar internasional, naik 4,9% menjadi US$ 85,41 per barel dan juga mendekati harga tertingginya sejak 2024.
Harga minyak kemudian mengalami penurunan menjelang penutupan perdagangan, sehingga membantu saham-saham di AS mengurangi kerugian. Namun, kekhawatiran tetap tinggi tentang berapa lama gangguan produksi minyak akan berlangsung karena perang yang meningkat dengan Iran. (Associated Press/nov)


